[BACA] The Warung Between Worlds - Hanna Alkaf

6:50 PM

gambar sampul The Warung Between Worlds karya Hanna Alkaf
The Warung Between Worlds, Hanna Alkaf
Gambar sampul oleh Bookiut

Judul: The Warung Between Worlds
Penulis: Hanna Alkaf
Penerbit: Bookiut
Diterbitkan pertama: May 2026
Tebal: 188 halaman
Format: Paperback
ISBN: 9786294641600
Rating: 5/5⭐️

The Warung stands, as it always has, on the edge of the Night Market. It’s the kind of nondescript warung you drive by on balik kampung roadtrips, with its twinkling fairy lights, its torn plastic table cloths, the scratched-up surfaces of its bright red chairs. Within its thin wooden walls, three Aunties whip up delicious delicacies for weary travellers, lost souls and adventurers on the way from Sini to Sana—as long as you’re willing to pay the price. Many cross the threshold of the Warung, and whether human or fae or something in between, the Aunties serve them all and take what is owed: a memento, a memory, a moment in time.

So if you see its neon sign winking at you through the crowd, if the smell of its wares entices you to climb its well-worn steps, come. Rest your feet. Refresh yourself. No matter what’s on the menu, it’s sure to satisfy.

After all, the Warung Between Worlds always knows what you need.


Warung sudah berdiri, entah sejak kapan, di pinggiran Pasar Malam. Bangunannya tidak berbeda jauh dengan warung-warung tepi jalan yang sering kamu temui ketika mudik, dengan lampu kelap-kelip, alas meja plastik yang sudah koyak, dan kursi-kursi plastik berwarna merah yang sudah lusuh. Di antara dinding-dinding kayu tipis itu, trio Emak menyajikan masakan-masakan lezat untuk para pengembara, penjelajah, dan jiwa-jiwa yang tersesat dalam perjalanan dari Sini ke Sana—selama kamu bersedia membayar harga yang pantas. Banyak pengelana yang menyinggahi Warung, entah manusia, peri, atau makhluk lain, ketiga Emak melayani mereka semua dan mengutip bayarannya: cendera mata, kenangan, atau secuil waktu. 

Kalau kamu menemukan papan reklame berlampu neon berkedip padamu di antara keramaian, atau mencium aroma lezat yang mengundangmu menaiki undakan tangga lusuh itu, singgah saja. Istirahatkan kakimu. Segarkan dirimu. Apapun yang ada di menu, dijamin akan memuaskanmu. 

Bagaimanapun juga, Warung antara Dunia selalu tahu apa yang kamu butuhkan. 


***

Sejak tinggal di Malaysia, salah satu hal yang gue lakukan adalah berusaha membaca buku-buku karya penulis lokal sebanyak-banyaknya. Nah, selama hampir empat tahun terakhir ini, salah satu penulis asal Malaysia yang gue suka banget karya-karyanya adalah Hanna Alkaf.

Pembaca di Indonesia, terutama pembaca buku-buku berbahasa Inggris, tentu sudah nggak asing dengan nama Hanna Alkaf. Karya-karyanya seperti The Weight of Our Sky dan The Hysterical Girls of St. Bernadettes’s terkenal sekali dan bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Nah, baru-baru ini Hanna Alkaf menerbitkan buku yang menurut gue “Malaysia banget”. Selain karena plot ceritanya sendiri yang sarat unsur-unsur budaya Malaysia seperti buku-buku sebelumnya, ini kali pertama Hanna Alkaf menerbitkan bukunya melalui penerbit Malaysia. The Warung Between Worldsmenurut kata-kata Hanna Alkaf, adalah hadiahnya untuk para pembaca di Malaysia—sebuah buku yang secara khusus dan spesifik ditujukan untuk Malaysia.

Well, bukan berarti gue, WNI yang kebetulan tinggal di Malaysia ini, nggak bisa membacanya 😏 Inilah privilege diaspora yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya 😏

Dari judulnya saja, gue sudah membayangkan cerita fantasi ala drama Korea seperti Mystic Pop Bar yang tayang tahun 2019 lalu; sebuah warung kaki lima di tepi jalan yang membawa kita ke petualangan-petualangan mistis. Tapi alih-alih menemukan oppa ganteng seperti Yook Seungjae dan om-om rupawan seperti Choi Wonyoung, kita malah bertemu dengan tiga emak-emak cerewet dan sedikit julid kritis. Yah, anggap saja ada tiga Wolju yang melayani pelanggan.

Selain Mystic Pop Bar, buku ini juga mengingatkan gue dengan seri klasik Narnia, terutama buku ketiganya The Voyage of The Dawn Treader; dengan rasa nasi lemak telur mata—alias versi Malaysia. Tapi kalian harus baca bukunya dulu buat tahu kenapa gue bilang buku ini mirip buku ketiganya Narnia 🙂‍↔️🙂‍↔️

Seperti yang gue bilang di atas, bukan berarti gue nggak bisa baca buku ini secara utuh. Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan sejarah dan budaya yang sangat erat. Kita berbagi banyak sekali kosa kata bahasa. Gue tidak mengalami kesulitan untuk memahami berbagai kata berbahasa Melayu yang digunakan Hanna Alkaf di bukunya. Well, gue sedikit kesulitan memahami konteks cerita-cerita rakyat yang di-mention di buku ini (kayak WDYM ada kota namanya KUAH???), tapi ya tinggal googling saja. Sama sekali nggak mengganggu experience gue membaca buku ini.

Gue suka buku ini karena ceritanya pendek tapi nggak terkesan buru-buru. Gue bener-bener hanyut dalam cerita ini sampai nggak sadar ceritanya sudah selesai hanya dalam sekali duduk.

Untuk keseluruhan buku, gue kasih buku ini rating 5/5 ⭐️. Bukunya benar-benar sesuai dengan keinginan Hanna Alkaf yang ingin menerbitkan cerita yang sangat dekat dengan pembaca Malaysia. It is especially Malaysian. Dan menurut gue, buku ini juga bisa jadi “gerbang” untuk para pembaca internasional yang ingin berkenalan dengan karya-karya Hanna Alkaf dan penulis-penulis Malaysia lainnya.






You Might Also Like

0 komentar

Thank you for leaving a comment. Please come back!