Minggu, 02 Juli 2017

Persepsi Sukses dan Mapan (A Babbling)

Apa yang menjadi definisi sukses dan mapan menurut Anda? Apakah kaya? Apakah memiliki pekerjaan yang prestisius? Punya kesempatan travelling keliling dunia?

Tiap orang memiliki definisi sukses dan mapan menurut mereka masing-masing. Saya secara pribadi mendefinisikan sukses dan mapan (di luar menikah dan memiliki anak tentunya) sebagai memiliki pekerjaan tetap yang saya cintai segenap hati dan mampu menghidupi diri sendiri dan orang tua. In short, being happy.


Banyak orang mengukur kesuksesan dan kemapanan berdasarkan materi. Seberapa kaya ia, berapa banyak mobil yang terparkir di garasinya, berapa banyak properti yang dimilikinya, dan seterusnya, dan sebagainya. Padahal seperti kata Katy Perri, money can’t buy us happiness.

Saya memiliki banyak teman yang sukses meski tidak bergelimpangan materi. They are all same, happy. Mereka punya pekerjaan tetap meski bukan pekerjaan yang prestisius, keluarga yang bahagia, jaringan pertemanan yang sangat suportif, dan selalu menginspirasi serta menebar positive vibes. Sebagian besar dari mereka bekerja di bidang yang bagi sebagian orang merupakan hal yang remeh. Let’s say, fotografer, blogger professional, wiraswasta (well, admit  it, beberapa orang masih menganggap remeh pengusaha, kecuali kamu punya perusahaan multinasional yang omsetnya milyaran rupiah pertahun).

Saya tidak ingin sukses dan mapan dalam artian bergelimpangan materi. Saya ingin sukses dan mapan dalam artian bahagia. Memiliki pekerjaan yang nyaman dan menyenangkan adalah salah satu indikator saya. Tidak perlu bekerja di perusahaan multinasional  dengan gaji puluhan juta rupiah perbulan, cukup pekerjaan yang mampu menghidupi kebutuhan primer saja. Untuk sekunder dan tersier? Pintu rezeki selalu ada di mana-mana. Allah gak akan pernah salah kasih rezeki.

Saya ingat saat pertama saya masuk jurusan Psikologi, tujuan utama saya adalah untuk memahami manusia, terutama memahami diri sendiri. Namun beberapa tahun setelahnya saya tergiur dengan betapa prestisiusnya lulusan psikologi dan psikolog. Banyak dari senior saya yang kemudian bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji yang menggiurkan, menjadi trainer atau recruiter yang sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Belum lagi mendengar bayaran psikolog yang mahal. Siapa yang tidak tergiur?

Tapi kemudian saya berpikir. Apa dengan pekerjaan seperti itu saya akan bahagia? Saya sadar saya bukan tipe orang yang bisa tenang bekerja di sebuah kubikel dengan ritme yang monoton dari pagi hingga petang. Saya senang bekerja dengan ritme yang dinamis dan memiliki tantangan yang berbeda di setiap pekerjaan. So, sebesar apapun  gaji yang ditawarkan saya tidak akan sanggup bekerja dengan kondisi monoton seperti itu. I won’t be happy.

Sukses dan mapan tidak melulu soal materi. Kalaupun memang sukses dan mapan diukur berdasarkan materi, saya memilih untuk tidak menjadi sukses dan mapan. Apalah arti sukses dan mapan jika tidak bahagia?

1 komentar:

  1. me too. Buatku happy itu tergantung dapat pekerjaan yang bisa bikin aku mandiri, sekaligus bisa bantu ortu dan semua orang yang aku sayang.

    BalasHapus

Merci de laisser un commentaire. S'il vous plaƮt revenir - Thank you for leaving a comment. Please come back