Terus Kenapa Kalo Budheg?

6:59 PM

Sebagai mahasiswa psikologi, tentu saya akrab dengan berbagai gangguan yang termaktub dalam Diagnostic and Statistic Manual (DSM). Pun, beberapa kali saya ditugaskan ke lapangan, bertemu dengan anak-anak spesial. Iya, spesial, meski nama yang tercantum di buku kuliah saya adalah anak berkebutuhan khusus, saya selalu menyebutnya sebagai anak-anak spesial. Ternyata, mbak Widut, teman blogger saya, bergabung dengan geng spesial ini.

Mbak Widut tuna rungu parsial, yang pendengarannya berada di ambang batas. Setiap saya teringat mbak Widut, saya teringat salah seorang siswa SMP-LB ketika saya tugas observasi lapangan dulu. Siswa ini, pertama bertemu saya, langsung menyerocos dengan bahasa isyarat. Saya yang gak jago-jago amat bahasa isyarat kelabakan menanggapinya. Satu-satunya yang saya pahami dari bahasa isyaratnya hanya "nama kakak siapa?" dan "kakak cantik". Oke, yang terakhir mungkin cuma geer.

Selama observasi, saya melihat betapa spesialnya mereka. Ada yang jago jahit baju, jago melukis, jago masak (gak sempat cicip tapi sempat nyium aromanya bikin lapar, beneran), dan masih banyak jago-jago lainnya meski untuk berkomunikasi tanganlah yang menjadi andalan. Budheg gak jadi masalah. Yang penting bisa berkarya, bekerja, halalan thoyyiban

Membaca cerita mbak Widut dan struggel-nya, membuat saya berpikir, memangnya kenapa kalo budheg? Saya aja kalo soal blogging masih jauuuuuuuuuuh dari mbak Widut. Kalo dibandingin sama dedek-dedek emesh di SMP-LB kemarenan itu juga saya mah jauuuuuuuuuuh kalah jago. Jadi siapa bilang tuli itu kekurangan? Use your weaknees as your strengtness cuy #elahgayawin

Saya sering mendengar kasus anak yang dikucilkan karena memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Tentu, ini bukan hal yang baik. Let's remind that these people are special, they are one in million.

Habis ini belajar bahasa isyarat. Malu euy, udah mau kelar kuliah belom bisa bahasa isyarat. Kan enak kalo udah bisa bahasa isyarat bisa cas cis cus ngomong sama tuna rungu gak bengong lagi. Haha


You Might Also Like

0 jejak dari orang-orang baik hati

Merci de laisser un commentaire. S'il vous plaît revenir - Thank you for leaving a comment. Please come back