Rabu, 26 Agustus 2015

[MASAK] Pack Up Ur Lunch to Save the World

Demi menyelamatkan dompet dan isi rekening dari krisis akibat dollar yang udah mencapai angka Rp 14.000, saya memutuskan untuk membawa bekal ke kampus. Kayak anak sekolahan sih ya, tapi demi kesejahteraan perut dan dompet saya memutuskan unuk membawa bekal kalau ada kuliah sampai siang atau sore. Kalau cuma kuliah pagi doang mah mending makan di rumah. Dan begitulah, sejak awal kuliah semester ini saya jadi berbekal ria kayak anak TK.

Kemaren, emak memutuskan untuk mencoba membuat tahu to the next level, jadi bola-bola tahu. Caranya lumayan gampang, jadi saya sempat coba bikin sendiri dengan instruksi emak. Hasilnya lumayan masih layak dimakan kok.

Selasa, 04 Agustus 2015

Karokean Gratis dan Ngoprekin Aplikasi Barunya Inviz

Disclaimer first, ini #BukanPostinganBerbayar karena saya emang niat nulis ini sebagai bentuk terimakasih saya karena sudah diundang Inviz buat nyobain aplikasi barunya yang emang baru launching. Engga ada yang minta diposting juga sih :D

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu ada postingan di grup SocMed Sumbar dari kak Nisa kalau ada undangan dari launching aplikasi barunya Inviz tanggal 2 Agustus kemaren. And so it goes, saya langsung bilang kak Nisa bakalan datang dan saya datang saya telat sepuluh menit dari waktu di undangan *kebiasaan*

Ternyata yang datang lumayan banyak juga. Semuanya dari berbagai komunitas, dan semua yang dateng wajahnya udah familiar buat saya.


Anyway sebelum kita bebas berkaraoke ria kita dikasih sedikit penjelasan sama manager Inviz soal aplikasi barunya.

Minggu, 02 Agustus 2015

[BOOK REVIEW] Here, After: Cerita Cinta Berakhir di Sini - Mahir Pradana

diambil dari Goodreads.com
Judul : Here, After: Cerita Cinta Berakhir di Sini
Penulis : Mahir Pradana
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2010
Tebal : 196 halaman
Format : Paperback
ISBN : 978-979-780-449-7

Suatu saat, cinta itu pernah ada. Dan aku melihatnya pergi tanpa sempat kucegah sama kucegah sama sekali.

Sejak hari itu, hari-hari terasa sulit untuk dijalani. Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri di cermin--karena saat itu aku tahu, hanya aku sendiri yang terlihat di situ. Meskipun kedengarannya tak masuk akal, sering aku berharap bisa membalikkan waktu. Aku bahkan bersedia memberikan apa saja supaya bisa mengucapkan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati.

Suatu saat, cinta itu pergi. Menyisakan sejuta penyesalan karena tak cukup sigap menahannya tetap berada di sini.