Minggu, 13 April 2014

Psikolog? Oooohh.. Dokter Jiwa, Ya?

Entah mungkin saya pernah membahas ini atau belum, tapi pertanyaan ini selalu muncul ketika ada yang bertanya saya berkuliah di jurusan mana. Kesannya, saya nanti kalau sudah lulus dan jadi psikolog kerjanya di rumah sakit jiwa, ngurusin yang sakit jiwa. Padahal gak semua psikolog ngurusin orang-orang dengan gangguan kejiwaan.



Oke, kita bahas satu-satu dulu. Psikiater atau yang lebih awam dikenal dengan dokter jiwa (seharusnya dokter spesialis kejiwaan wkwk) adalah dokter umum yang mengambil spesialis kejiwaan. Namanya juga dokter, tentu treatment yang diberikan tidak akan jauh-jauh dengan obat. Jadi, jika anda mengalami masalah kejiwaan dan mengau kepada dokter jiwa, anda akan diberikan obat-obatan alih-alih terapi.

Sedangkan psikolog adalah sarjana strata 1 ilmu psikologi yang telah mengambil program magister keprofesian psikologi. Psikolog ini bidangnya juga macam-macam, ada psikolog pendidikan, psikolog industri dan organisasi, psikolog forensik, dan psikolog klinis.


Nah, yang sering dianggap sebagai dokter jiwa sebenarnya adalah psikolog klinis. Kalau dokter jiwa berhubungan dengan obat-obatan, psikolog klinis tidak bisa memberikan obat-obatan, karena ranah psikolog bukanlah treatment yang berhubungan dengan obat-obatan, melainkan treatment berupa terapi. Maka dari itu, orang yang datang ke seorang psikolog disebut dengan klien, bukan pasien (walaupun saya dengar bidan juga memakai istilah klien sih).

Kalo ringkasnya sih, kurang lebih ini bedanya psikolog dan psikiater

Psikolog vs Psikiater

Ini psikiater, boleh ngasih obat

Ini psikolog, gak boleh ngasih obat

Nah, jadi jangan salah lagi ya. Psikolog BUKAN dokter jiwa. Sebagai penutup, saya kasih gambar qoute favorit mahasiswa psikologi wkwk