Minggu, 28 April 2013

[BOOK REVIEW] Waktu Pesta - Dodi Prananda, dkk


Judul: Waktu Pesta; Pestanya Para Penulis!
Penulis: Dodi PranandaIntan KiranaMuhammad Mahdy, dan Tya Winduwati
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tanggal Terbit: 2013
Harga: Rp49.800,-
ISBN: 978-602-02-0582-3

Teruntuk para pembaca, atas nama cinta, kami torehkan manis dan pahitnya warna pelangi. Atas nama gelora, kami sampaikan kelam dan indahnya asa. Atas nama sang imaji, kami tunjukkan peranan tak terduga di batas khayal. Dan atas nama para penulis, kami mengundang Anda untuk berpesta!

Mari nikmati segala suasana dan ingar-bingarnya Waktu Pesta! Karena seperti yang tertulis di kartu undangan kami semasa kecil: "Tiada kesan tanpa kehadiranmu"

***

Inilah antologi cerpen empat orang mahasiswa, mengangkat topik-topik tak terduga secara apik dalam dua belas kisah yang terangkum dalam buku Waktu Pesta ini.  Dua belas kisah ini dibagi dalam empat subtema, Waktu Pesta bersama CintaGelora di Waktu PestaWaktu Pesta Sang Imaji, dan Waktu Pesta "Ku". Meski demikian, sesuai dengan judul antologi ini, para penulis tampak berpesta pora dalam tulisan-tulisannya yang seolah "berlari", berkreasi dan berpesta melalui tulisan-tulisan mereka. 

Waktu Pesta bersama Cinta
Seorang gadis Indonesia terjebak pesona lelaki Jepang ketika mengikuti pertukaran pelajar dalam K. Hidup Drian yang teratur tiba-tiba terusik oleh Mel dalam Drian dan Caramel. Maria mempertanyakan perasaannya terhadap Carl ketika mereka tengah menjalankan misi memulangkan cawan asli gereja Convento dalam Cerita Ventura.

Tiga kisah tentang dilematika percintaan dirangkum dengan apik. Tema yang biasa, sebenarnya. Namun Intan Kirana, Tya Winduwati, dan Muhammad Mahdy mampu menulisnya dengan "rasa" dan "bumbu" yang berbeda sehingga cerita-cerita ini tetap "segar" untuk dibaca.

"Seketika tubuhku berubah menjadi sebuah orkes yang agung, otakku sibuk merumuskan nada-nada dalam partitur, mulutku bersenandung dengan canggung, sementara di dadaku, ada sepasang jantung yang berdetak kencang: barangkali saja aku jatuh cinta."-Intan Kirana, K
"Berulang kali ia mengetuk-ketukan gulungan koran ke dahinya. Berusaha membangunkan manusia kecil di dalam benaknya. Berusaha menyulap kondisi hidupnya dengan instan seperti pesulap di pesta ulang tahunnya berpuluh tahun yang lalu."-Tya Winduwati, Drian dan Caramel
"Aku ingin mengumpulkan seluruh cinta dan memberikannya kepadamu. Aku ingin mengumpulkan seluruh nada dan menyanyikannya untukmu."-Muhammad Mahdy, Cerita Ventura

Gelora di Waktu Pesta
Mustafa dan Kartini memiliki latar belakang yang berbeda, dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan kalbu yang mengusik dalam Balada Juru Agama dan Pramuria. Seorang istri melepas kepergian sang suami untuk memburu paus raksasa dalam Memburu Raja Laut. Tak ada yang menyangka pertemuan Orlando dengan seorang kakek tua asal Thailand membawanya pada sebuah ketenaran di atas ring dalam A Cat In the Alley.

Tiga kisah tentang pergulatan batin dan sisi manusiawi seseorang. Seorang ustad yang mempertanyakan imannya. Seorang istri didera dilema antara mencegah atau melepas sang suami melaut. Seorang petinju merasakan kehampaan di tengah ketenarannya. Saya terkesima dengan tiga kisah ini. 

Intan Kirana berhasil menuliskan pergolakan batin yang dialami setiap manusia, menonjolkan sisi paling manusiawi seseorang melalui tokoh Mustafa yang digambarkan sebagai seorang guru agama. Dodi Prananda mengangkat tradisi berburu paus masyarakat desa Lamalera, NTT, meski titik berat kisahnya adalah (lagi-lagi) sisi manusiawi seseorang melalui tokoh sang istri. Saya menyukai alur dan berbagai trivia yang disisipkan dalam cerita ini. Muhammad Mahdy juga menonjolkan sisi manusiawi seseorang yang berada di tengah kesuksesannya. Tema yang klise sebenarnya, mengingat banyaknya cerpen dengan tema serupa. Meski demikian saya menyukai cerpen-cerpen ini karena meski temanya klise, namun mereka "meracik" cerpen-cerpen ini agar "enak" dibaca.

"Tuhan, maafkan aku. Sekali ini, sekali ini dan mungkin sudah. Aku butuh uang, dan juga butuh pemuas segala berahi: bukankah Kau ciptakan manusia dengan semanusiawin itu?"-Intan Kirana, Balada Juru Agama dan Pramuria
"Pergilah ke laut lepas, Sayang! Berburulah atas nama cinta. Apa kau masih mengingatnya? Dulu, di tepi pantai, setelah aku mengecupmu, kau menuju laut lepas. Hendak memburu raja laut. Di telingamu, aku bisikan doa. Berburulah atas nama rasa yang kita sebut cinta."-Dodi Prananda, Memburu Raja Laut
"Kau adalah kau, dan aku adalah aku. Kau tidak memanggilku untuk meminta bantuan jika kau terlibat masalah dengan ini. Kau tidak menangis kepadaku saat kakimu patah. Kau tidak meneriakkan namaku saat kau menjadi yang terkuat. Aku tidak menanggung dosamu, atau mengambil pahalamu"-Muhammad Mahdy, A Cat In the Alley

Waktu Pesta Sang Imaji
Nawangwulan tak bisa pulang sebelum menemukan seledangnya yang dicuri Jaka Tarub dalam Kisah Lain Nawangwulan. Hasil pancingan Piscate tak lagi sebagus yang biasa ia pancing untuk Tohen dalam Ketika Tohen dan Piscate Pergi Memancing. Kondisi laut yang dicemari berbagai sampah membuat para duyung berdemo kepada ratunya dalam Dongeng Duyung Pantai Selatan.

Sangat berani. Mungkin dua kata itulah yang mampu menggambarkan perasaan saya membaca tiga cerpen ini. Kisah Nawangwulan dan dongeng Pantai Selatan tentu sudah sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Namun Tya Winduwati "meramu" kembali cerita rakyat ini menjadi kisah yang baru dan fresh. Setali tiga uang, Intan Kirana menceritakan kisah tentang Zat Tertinggi yang hingga kini banyak misteri yang menyelubunginya. Overall, tiga cerpen ini bisa saya katakan berfilosofi dan penuh pesan moral.

"Kalau saja hari ini bukan giliranku mendapat mustika, pasti aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan awan senja dari balkon kamarku di istana langit. Bumi terlalu jorok untuk ditinggali dan aku kesal bukan main kalau ada manusia yang membuang sampah."-Tya Winduwati, Kisah Lain Nawangwulan
"Suasana semakin ramai seiring waktu berganti, namun berbagai pertanyaan tetap menggelayut seerat dahulu; sejak awal mula ketika segalanya kosong dan penuntunku hanya sebuah suara yang tak dapat kutelusuri asal usulnya. Sejauh yang kutahu, aku lahir dari sebuah ketiadaan. Atau mungkin, bersama sebuah ketiadaan."-Intan Kirana, Ketika Tohen dan Piscate Pergi Memancing
"Betapa kisah kasih antara mereka yang dikisahkan tiap masa itu tak lagi bisa menenangkan, tapi sungguh bagai perasan jeruk di atas luka atau penjara emas yang mahal."-Tya Winduwati, Dongeng Duyung Pantai Selatan

Waktu Pesta "Ku"
Seolah karma, seorang perusak pesta malah menikmati waktu pestanya sendiri dalam Waktu Pesta. Kenanga merindukan sosok ayah dan ibunya yang telah dua tahun tiada dalam Wind Chime. Selma menemukan "Toko Wajah" tepat disaat ia membutuhkannya dalam Piknik Hujan.

Klimaks. Setidaknya inilah gambaran yang saya dapat dari tiga cerpen karya Dodi Prananda ini. Kesunyian dan rasa sedih menyelimuti kisah-kisah ini. Classic, but not cliche. Setidaknya ini pendapat saya.

"Saya pikir, setiap orang memiliki waktu pesta masing-masing. Hanya saja, ada yang tak nikmat dan berhasil dengan sempurna menikmati waktu pesta yang telah dijatahkan baginya."-Dodi Prananda, Waktu Pesta
"Sebenarnya ia masih sangsi; benarkah warna putih sebagai perlambang kesucian? Tapi, kini ia selalu melihat warna putih sebagai simbol atas kesendirian yang membuatnya jauh tenggelam ke dasar kerinduan itu."-Dodi Prananda, Wind Chime
"Ibu, ajarkan aku cara menyeduh hujan, seperti cara Ibu menyeduh kesedihan. Ajak aku memasuki imajinasimu, dan kita akan piknik di bawah hujan, untuk meluruhkan segala yang membuat resah hati dan merontokkan dahan kesenduan." Dodi Prananda, Piknik Hujan 

Physically, saya menyukai sampulnya yang catchy dan judul di masing-masing cerpen yang memiliki font yang berbeda-beda. Meski demikian saya sangat terpesona dengan kisah-kisah yang mereka tawarkan. Unik, menarik dan segar. Recommended book to buy and read! 

UPDATE:
Beberapa waktu yang lalu, salah satu penulis buku ini, Dodi Prananda, menghubungi saya. Katanya, saya salah menginterpretasikan cerpen K karya Intan Kirana. Setelah saya baca ulang, ternyata saya terbalik! Si lelaki lah yang terjerat pesona si wanita dan si lelaki itu berdarah Jepang. Brilliant! Butuh waktu berulang-ulang untuk menyadari jebakan ini. It makes this book comes more uniqe!

Jumat, 26 April 2013

Not A Student Anymore, But Not A Colleger Yet

DISCLAIMER: Saya meminta maaf atas kealpaan saya mengurus blog ini sekalipun Ujian Nasional telah berakhir minggu lalu. Ternyata setelah Ujian Nasional masih ada kesibukan lain yang harus saya jalani, perpisahan.


"Statusnya Awin yang paling galau. Pelajar bukan, mahasiswa belum"         -Kak FhiaFT, mau wisuda

Inilah status tergalau yang pernah saya alami selama tiga tahun terakhir. Bukan jomblo, apalagi jombo ngenes seperti ABG labil kebanyakan remaja saat ini. Tapi saya sangat-sangat galau dengan status pekerjaan saya hari ini. Pelajar bukan, mahasiswa belum (meskipun secara teknis saya masih berstatus pelajar, karena ijazah belum di tangan). Ini lebih galau dibandingkan kondisi saya saat pendaftaran SNMPTN atau kondisi saya saat melihat novel yang saya idam-idamkan saat tidak ada uang. Ini bukan galau biasa. Ini galau LUAR BIASA.

Buat teman-teman yang seangkatan dengan saya pasti akan merasakan bagaimana bosan dan galaunya setelah Ujian Nasional ini. Bayangkan, saya yang biasanya bangun jam lima pagi dan pontang-panting mempersiapkan perlengkapan sekolah, sekarang malah diperbolehkan berleha-leha di rumah sampai SBMPTN digelar bulan Juni depan. Kondisi seperti ini membuat saya beberapa hari ini seolah terkena sindrom. Belakangan saya sering bangun kesiangan, sekitar jam enam. And, buat saya yang terbiasa bangun at least setengah enam, it means saya terlambat ke sekolah dan harus mandi jenggo (FYI, buat yang gak tau "mandi jenggo", itu istilah saya untuk mandi kilat dengan prosedur: gosok gigi, cuci muka, pake cologne dan deodoran, lalu ganti baju). TAPI, berhubung saya sudah selesai UN dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan, saya jadi bingung mau ngapain. Jadilah, selama seminggu terakhir saya mendekam di rumah, hanya membaca buku atau menonton film. Kalaupun saya keluar, itu hanya untuk gladi resik perpisahan, perpisahan, dan mengambil modul persiapan SBMPTN. It was soooooo boring.

So, kalau ada yang nanya apa kegiatan saya selama "libur" (technically, saya gak libur. Tapi apa namanya kalau gak sekolah?), saya akan jawab "ngeden di rumah, jadi ulet keket". But it won't be forever, secara Senin depan saya udah mulai pembelajaran intensif untuk SBMPTN di salah satu lembaga bimbingan belajar. Tapi saya berjanji akan berusaha meng-update blog ini paling tidak sekali seminggu (semoga tidak lupa).


Anyhow and anyway, saya bikin dua blog lagi. Yang satu blog sastra, Jurnal KATAku, dan yang satunya lagi blog buku, Lisons le Livre. Buat yang pengen tau, silahkan mampir di sini dan di sini

Rabu, 03 April 2013