Jumat, 21 Juli 2017

The Sign of Depression; 13 Reasons Why Thoughts


Ada yang sudah nonton 13 Reasons Why? Salah satu serial besutan Netflix ini sukses besar tidak hanya di Amerika, tapi juga di Indonesia. Serial yang diadaptasi dari novel karya Jay Asher dengan judul yang sama ini bercerita tentang Hannah Baker, seorang siswi SMA yang bunuh diri dan meninggalkan 13 kaset rekaman yang menjelaskan 13 alasan mengapa (atau tepatnya, siapa yang menyebabkan) ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Kaset ini kemudian diterima oleh Clay Jensen, salah seorang teman Hannah, and that's how the story begin.

Minggu, 16 Juli 2017

GIVEAWAY #AliviaAwinXLulinoID [16 - 29 JULI 2017]


Hai, fellas!

Sebagai bentuk syukur saya karena akhirnya bisa uprade domain blog, saya ingin berbagi kebahagiaan dengan sedikit berbagi rezeki dengan teman-teman pembaca semua. So, I teamed up with LulinoID to make a little giveaway with a lovely prizes just fot you guys!

Jumat, 07 Juli 2017

Cara Belajar yang Efektif Berdasarkan Tipe Belajar


Hai fellas! Bulan Juli identik dengan tahun ajaran baru dan penerimaan peserta didik baru. Selama bulan Mei-Juni kemarin banyak sekali pesan yang masuk ke akun media sosial saya menanyakan bagaimana cara belajar agar lulus SBMPTN, bagaimana cara belajar di jurusan Psikologi, dan berbagai macam pertanyaan sejenis lainnya. Jadi, daripada saya membalas pesan-pesan tersebut satu per satu, saya akan membahasnya melalui postingan ini agar semua bisa membaca. Kali ini saya akan bahas cara belajar secara umum dulu, nanti di postingan berikutnya baru saya akan bahas mengenai belajar di perkuliahan, khususnya di jurusan Psikologi.

Minggu, 02 Juli 2017

Persepsi Sukses dan Mapan (A Babbling)

Apa yang menjadi definisi sukses dan mapan menurut Anda? Apakah kaya? Apakah memiliki pekerjaan yang prestisius? Punya kesempatan travelling keliling dunia?

Tiap orang memiliki definisi sukses dan mapan menurut mereka masing-masing. Saya secara pribadi mendefinisikan sukses dan mapan (di luar menikah dan memiliki anak tentunya) sebagai memiliki pekerjaan tetap yang saya cintai segenap hati dan mampu menghidupi diri sendiri dan orang tua. In short, being happy.


Sabtu, 01 Juli 2017

New Face; A Random Babbling


Finally! Akhirnya ganti juga dengan domain pribadi. Sebenarnya sudah lama pengen ganti domain dari bawaan Blogger ke domain pribadi, tapi baru hari ini kesampaian. 

Jujur saja, butuh pemikiran yang panjang (halah) sebelum akhirnya memutuskan untuk menggunakan domain pribadi. Buat saya, memutuskan untuk pakai domain pribadi itu kayak memutuskan untuk menerima lamaran lelaki atau memutuskan untuk menato tubuh. Butuh komitmen seumur hidup (gaya bener, Win). Soalnya, jika blog ini tidak saya urus dengan benar, maka sia-sia saja saya menggunakan domain pribadi.

Sabtu, 10 Juni 2017

Mencari Baju Lebaran via Online, Why Not?

Hai fellas!

Sepertinya sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Maklum, mahasiswa tahun akhir lagi sibuk-sibuknya ngerjain skripsi yang gak kelar-kelar. Apalagi sekarang bulan Ramadhan, gak ada kuliah, jadi bisa dengan seenak jidat menyambangi ruang dosen tanpa takut dosennya sedang mengajar. Alhamdulillah, dosen pembimbing saya bukan tipe dosen ninja yang datang dan pergi secepat angin. Malah, saya tipe mahasiswa bimbingan yang nongol di jurusan hanya ketika jadwal bimbingan. Selebihnya? Kalo gak di perpustakaan kampus ya di perpustakaan daerah.

So, gimana rasanya bulan Ramadhan sebagai pejuang skripsi?

Hmmm, gitu-gitu aja sih. Sedikit sepi karena biasanya setiap bulan Ramadhan saya ada kegiatan (apalagi tahun kemaren puasa di lokasi KKN), sementara tahun ini full hanya ngerjain skripsi. Sedikit jenuh juga karena setiap  hari harus berkutat dengan berbagai macam buku, jurnal, skripsi, tesis, dan segala macam referensi skripsi.

Mungkin yang menjadi hiburan bagi saya adalah mama saya, yang sejak awal Ramadhan udah rusuh soal printilan lebaran. Lha, Ramadhan baru jalan seminggu lewat, mama saya  sudah menodong saya untuk beli baju lebaran. Saya kan anaknya gak terlalu ngerti fashion, gak paham mode, wong baju sehari-hari aja mama yang beliin *lol*

Nah, daripada mama makin rusuh, jadilah saya searching baju-baju lebaran melalui online shop. Kenapa online shop? Soalnya kalo ke mall pasti lagi rame banget sekarang. Apalagi padang cuacanya belakangan panas banget. Bisa-bisa puasa saya batal. Makanya, online shop jadi pilihan yang ideal buat cari-cari baju lebaran.

Salah satu online shop yang saya lihat-lihat koleksi bajunya adalah Zalora. Kebetulan, koleksi baju muslim di Zalora bagus-bagus banget, variatif. Saya suka banget model dan warnanya yang rata-rata sesuai dengan usia saya dan selera saya yang simpel dan chic. Saya ngincer banget tuh dress sama cardigan. Pengen kaftan juga sih, tapi badan saya kan minimalis ya, takutnya badan saya malah kelelep. Hahahahahaha.

Mencari baju melalui online shop emang sedikit tricky, tapi kalau kamu paham ukuran tubuh kamu sendiri, insya Allah gak masalah. Yang penting selalu teliti melihat ukuran baju karena biasanya tiap produsen atau brand punya standar ukuran yang berbeda.

Selamat berpuasa semuanya, dan selamat hunting baju lebaran!

Sabtu, 29 April 2017

My Friend Is A Gay

Note: Harap membaca postingan ini dengan seksama dan dengan kepala dingin. Silahkan berkomentar dan berdiskusi sebebasnya tanpa mengesampingkan norma yang ada dan berlaku. Segala komentar yang bernada negatif dan diskriminatif akan segera saya hapus. Saya bukan pendukung, pun bukan penggiat LGBT+. Semua ini murni hasil renungan dan pemikiran saya.

Butuh waktu berhari-hari bagi saya hingga akhirnya saya berani menuliskan ini. Butuh keberanian yang cukup untuk saya akhirnya bercerita tentang ini. Saya sadar ini topik yang cukup sensitif untuk budaya Indonesia yang ketimuran, pun saya tidak ingin menyinggung pihak-pihak tertentu. But yeah, here comes the story

Beberapa waktu yang lalu, saya ingat benar hari itu saya ada kuliah pagi, sekitar jam 8, tiba-tiba notifikasi line saya muncul, menampilkan sebuah pesan dari teman saya yang terpisah selat sunda:
"Guys, I love you all, tapi aku mau bilang sesuatu: AKU GAY"
Manusia normal mana yang gak kaget, pagi-pagi sudah dapat pesan seperti itu. Selama beberapa menit saya hanya terdiam menatap pesan itu. Fokus saya teralihkan dari materi presentasi yang ada di depan kelas. Berusaha positif, saya membalas pesan teman saya tersebut.
"Kamu lagi main truth or dare?"
Iya, saya berpikir teman saya (yang kadang isengnya memang keterlaluan) ini sedang main truth or dare dan ditantang mengirim pesan seperti itu. Tapi balasan teman saya membuat semuanya berbeda
"Gak, aku beneran coming out. AKU BENERAN GAY"
Lagi-lagi butuh waktu beberapa menit bagi saya untuk mencerna pesan ini. Teman saya gay, pelaku homoseksual, sesuatu yang sepanjang pengetahuan saya tidak dibenarkan dalam agama saya, pun tidak dibenarkan dalam pandangan norma yang berlaku di negara ini. Berbagai pemikiran negatif mulai muncul di benak saya. Lantas sebuah pertanyaan pun bergema, apakah saya akan memutuskan pertemanan dengan teman saya karena dia dengan jujur mengakui kepada saya kalau dia gay?

Saya memutuskan untuk membuka percakapan dengan teman saya ini
Awin (A): Kamu serius? 
Teman (T): Iya, serius 
A: Kamu yakin kamu beneran gay? 
T: 101% 
A: Tapi agama kita gak membenarkan homoseksualitas 
T: It's on my risk 
A: You wanna go to a psychologist? Aku bisa minta rekomendasi ke dosenku 
T: No. Aku gak butuh ke psikolog. Aku yakin ini sesuatu yang benar 
A: It's not right to our norms and society, but how could I say. Aku bukan pendukung LGBT+ 
T: Terus kamu gak mau temenan sama aku lagi karena aku gay? 
A: Aku gak bilang gitu juga. Maksudku, aku gak mendukung keputusan kamu menjadi gay. Aku malah pengen menyeretmu ke psikolog. Tapi itu keputusan kamu, aku menghormatinya.  
T: So we still friends? 
A: We still friends. Sampe bosan. Makasih udah jujur sama aku. But remember that I'm not supporting you on being gay. Resiko tanggung sendiri.
Yah, kira-kira begitu. Tentu saja ini tidak 100% sama dengan percakapan aslinya, tapi begitulah intinya. Teman saya gay. Entah bagaimana reaksi keluarga dan lingkungannya selain saya, saya tidak tahu. Saya hanya bisa berdoa teman saya kembali ke jalan yang benar, atau setidaknya mau menemui psikolog.

Ini terjadi beberapa waktu yang lalu. Hari ini, saya mendengar kampus saya mengeluarkan peraturan yang menolak mahasiswa LGBT+ (note: informasi terakhir yang saya dapat, berita ini sudah dihapus dari laman website universitas). Sesuatu yang baru, tentu saja, dan menimbulkan pro dan kontra. Lantas saya berpikir, apakah dengan menjadi gay seseorang lantas kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan? Bukankah ini diskriminatif?

Tidak seperti di Amerika, LGBT tidak dipandang baik di negara kita, begitu juga di kampus saya yang berada di Ranah Minang, tanah yang menjunjung tinggi norma keislaman, adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Meski Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association tidak mencantumkan LGBT+ sebagai sebuah gangguan, LGBT+ yang merupakan minoritas jelas merupakan sebuah abnormalitas secara statistik dan norma sosial.

Kembali ke pertanyaan saya, apakah dengan menjadi gay seseorang kehilangan haknya mengenyam pendidikan? Bukankah itu menciderai UUD yang mencantumkan hak pendidikan bagi seluruh warga negara?

Saya bukan pendukung LGBT+, saya tetap memahami homoseksualitas sebagai sebuah penyimpangan, terutama terhadap norma agama, asusila, dan sosial yang berlaku di negeri ini. Tapi bagi saya, penyimpangan ini tidak lantas menjadi pembenaran bagi kita untuk bersikap diskriminatif. Dosen saya pernah berkata bahwa LGBT+, layaknya penyakit, adalah sesuatu yang harus diobati. Sebuah konseling (bahkan terapi jika dibutuhkan) sebaiknya diberikan kepada pelaku LGBT+, bukan untuk mendukung, tapi untuk meluruskan pemikiran mereka.

After all, saya berharap setelah ini bisa lebih bijak menghadapi hal-hal sensitif seperti ini. Saya berharap biro konseling (baik di kampus maupun luar kampus) bisa memberikan pelayanan kepada komunitas LGBT+, bukan untuk mendukung, namun untuk menjadikan mereka lebih baik. Saya juga berharap teman saya mau mengunjungi psikolog untuk mengkonsultasikan keadaannya sebagai gay.

Saya berharap, tidak ada perlakuan diskriminatif terhadap komunitas LGBT+. Sebaliknya, mengapresiasi kejujuran mereka dengan mengarahkan mereka untuk menemui psikolog. Toh, bertemu psikolog bukan sesuatu yang menakutkan. Believe me, psikolog itu orangnya asik-asik!

FYI
Terminologi LGBT saat ini sudah berkembang menjadi LGBT+, sering juga disebut sebagai LGBTQ, yang terdiri dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Gender Queer/Gender Non Binary. Gender Queer/Gender Non Binary/Gender Non Conforming merujuk pada individu yang tidak mengidentifikasi dirinya baik sebagai laki-laki atau perempuan, kinda like somewhere in between (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Genderqueer).

Sabtu, 01 April 2017

Obat Buat Jalan-Jalan

Begitu presidium sidang nun di Sumbawa sana mengetuk palu menyatakan kepengurusan ILMPI 2016/2017 demisioner, sebuah pesan masuk ke groupchat infokom
"Abis aku wisuda jalan-jalan kita?" - Papi Ical, pengen berburu bule
Duh, si papi. Mentang udah mau wisuda langsung aja ngajak jalan-jalan. Kan pengen #loh #gimana.

Selama kuliah, liburan saya ke luar kota selalu disambi kegiatan ILMPI, gak pernah beneran jalan-jalan. Makanya tahun ini saya bertekad menyisihkan uang untuk jalan-jalan beneran, bukan jalan-jalan bermodus lagi. Yah, minimal ke Solo dan Jogja lah, udah lama banget pengen ke sana.

Makanya saya iri mampus sama mbak Mutz, si turis cantik yang bisa kerja sambil jalan-jalan. Mbak Mutz ini udah melanglang buana mengunjungi berbagai tempat di Indonesia dan manca negara. Iri banget lah saya mah. Dulu waktu mau milih jurusan saya sempat pengen masuk Ilmu Komunikasi biar bisa jadi wartawan, kerjanya jalan-jalan. Apa daya, mamak gak setuju. Takut anak perawannya tewas ditembak peluru nyasar atau kecelakaan pesawat saat bertugas (soalnya dulu sering banget berita wartawan meninggal saat bertugas).

Meski begitu, saya tetep pengen travelling. Apalagi sekarang, lagi sumpek-sumpeknya sama skripsi. Maunya mah liburan biar adem ini kepala. Pengennya sih begitu skripsi kelar bisa langsung cus jalan-jalan.

TAPI permasalahannya saya gampang banget sakit. Saya punya gastritis dan riwayat tension headache yang masih sering kumat. Bahkan sewaktu di Palembang kemaren saya sempat dilarikan ke UGD gara-gara gastritis dan headache saya kumat berbarengan.

Harusnya saya mengikut tips mbak Mutz untuk bawa obat-obatan pribadi. Bukannya cuma bawa minyak angin terus ujung-ujungnya ngerepotin orang.

Kotak P3K yang disarankan mbak Mutz dan sudah saya modifikasi sesuai kebutuhan saya untuk dibawa selama travelling ada

1. Koyo
Kayaknya ini saya butuh banget. Berhubung saya gampang banget pegel-pegel, apalagi kalau menempuh perjalanan darat, saya butuh banget yang namanya koyo. Tapi kemaren sih di Palembang saya minta dibeliin koyo bukan buat pegel-pegel, tapi biar gak meriang selama sidang dari pagi ampe subuh (ajaran teman KKN)
Koyo-an selama jadi pimpinan sidang
dan dibikin beginian sama junior
2. Salep
Mbak Mutz merekomendasikan Lucas Papaw, salep multi fungsi untuk kulit. Sayangnya, Lucas Papaw ini susah dicari. Mungkin bisa diganti dengan salep lain atau balsem aromaterapi

3. Minuman isotonik
Travelling, apalagi ke negara yang zona waktunya berbeda dengan Indonesia bisa menyebabkan ion tubuh berkurang. Jadi sangat disarankan untuk membawa minuman istonik, atau minimal air mineral deh untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang

4. Minyak angin
The holy grail of all Indonesian travellers, sepertinya. Haha. Minyak angin ampuh banget untuk mengatasi masuk angin, mual, bahkan gatal-gatal.

5. Obat-obatan pribadi
Kayak saya yang punya penyakit gastritis, otomatis obat maag harus selalu tersedia. Apalagi buat yang punya asma atau alergi, kudu wajib harus banget bawa obat. Jangan sampe malah berakhir di UGD kayak saya gara-gara gak bawa obat.

Terus Kenapa Kalo Budheg?

Sebagai mahasiswa psikologi, tentu saya akrab dengan berbagai gangguan yang termaktub dalam Diagnostic and Statistic Manual (DSM). Pun, beberapa kali saya ditugaskan ke lapangan, bertemu dengan anak-anak spesial. Iya, spesial, meski nama yang tercantum di buku kuliah saya adalah anak berkebutuhan khusus, saya selalu menyebutnya sebagai anak-anak spesial. Ternyata, mbak Widut, teman blogger saya, bergabung dengan geng spesial ini.

Jumat, 31 Maret 2017

Tentang Pilihan Untuk Menikah

Ada salah satu member arisan BP yang mengingatkan saya dengan teman saya. Namanya mbak Esther Ariesta-Rantanen. Mbak cantik ini sempat membuat kami heboh saat akan menikah dengan mas bule Finlandia yang ganteng aduhai *loh*. Demi menghibur kami yang penasaran dengan wajah mas bule, plus karena gak bisa liat prosesi pernikahannya yang nun jauh di Finlandia sana, mbak Esther sempat mengirimkan videonya dan kami langsung mengerubunginya dengan ucapan selamat plus pertanyaan apakah ada mas bule single teman suaminya yang bisa digebet #ehgimana

Mengobrak Abrik Isi Lemari Pojok

Belakangan, tiap buka laptop yang ada di pikiran cuma ngerjain skripsi. Cari referensi, baca jurnal, ngetik. Sampe berasap terus amnesia punya blog dan hutangan yang mesti diselesaikan. Baiklah.

Kemaren-kemaren udah bahas kompor mledug, kayu sirih, nah sekarang bahas lemari pojok. Heran kadang sama blogger-blogger yang nama blognya unik. Dapat ide dari mana sih, bisa nemu nama blog unik begitu?

Lemari pojok ini milik mbak Retno, supermom dengan tiga krucil imut-imut menggemaskan. Ternyata selain menulis di blog, mbak Retno juga pernah nulis di media. Waaah keren! Jadi semangat nih mengobrak abrik isi lemarinya dan menemukan tulisan yang menarik.
Gemes iiiihhh mbaaakk pengen cubit boleh gak?

Kamis, 23 Maret 2017

[BACA] Mata Hari (The Spy) - Paulo Coelho

Judul : Mata Hari (The Spy)
Penulis : Paulo Coelho
Alih Bahasa : Lulu Wijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan pertama : November 2016
Tebal : 192 halaman
Format : Paperback
ISBN : 9786020336138

Ketika tiba di Paris, Mata Hari tidak memiliki uang sepersen pun, tetapi dalam beberapa bulan saja dia telah menjadi wanita paling terkenal di kota itu.

Sebagai penari, dia membuat para penontonnya syok dan berdebar-debar; sebagai wanita penghibur, daya tariknya membius pria-pria paling kaya dan berkuasa pada zaman itu.

Tetapi ketika perang melanda, paranoia menyelimuti seantero negeri. Gaya hidup Mata Hari membuat dia dicurigai. Pada tahun 1917, dia ditangkap di kamar hotelnya di Champs Elysees dan dituduh melakukan kegiatan mata-mata.
***

Rabu, 15 Maret 2017

[BACA] Sang Rubah Salju (Sashenka) - Simon Sebag Montefiore

Judul : Sang Rubah Salju (Sashenka)
Penulis : Simon Sebag Montefiore
Alih Bahasa : Ida Rosdalina
Penerbit : Alvabet
Diterbitkan pertama : Januari 2008
Tebal : 646 halaman
Format : Paperback
ISBN : 9786029193251

Musim Dingin, 1916: Di St Petersburg, Rusia di ambang revolusi. Di luar Institut Smolny untuk Putri Bangsawan, seorang pengasuh tengah menunggu putri tuannya untuk dijemput pulang dari sekolah. Gawatnya, begitu pula polisi rahasia Tsar.

Kala itu telah berusia 16 tahun, Sashenka Zeitlin telah berubah menjadi gadis cantik dan keras kepala. Seperti ibunya yang berpesta dengan Rasputin dan teman-temannya yang galau, Sashenka kerap menyelinap ke tengah malam yang dingin untuk menjalani perannya sebagai kurir revolusi dalam suatu permainan konspirasi yang sangat berbahaya.

Dua puluh tahun kemudian. Sashenka adalah istri seorang suami yang berkuasa di pentas politik, seorang pejabat partai; bapak dari dua anaknya. Dalam suasana politik setelah Revolusi Oktober, orang-orang terdekatnya lenyap entah ke mana, namun keluarganya sendiri aman. Tetapi, jalinan cintanya dengan seorang penulis—seorang mata-mata politik, barangkali—mengantarkannya menuju kehancuran: pribadi, karier politik, bahkan keluarganya.

* * *
Selama setengah abad lebih, kisah Sashenka tertutup rapat, hingga kemudian seorang sejarawan muda berhasil menelusuri arsip pribadi Stalin dan mengungkap sebuah cerita memilukan tentang hasrat dan pengkhianatan, kekejaman dan heroisme, sejarah dan penyelamatan: perihal seorang perempuan yang dipaksa mengambil pilihan sulit.

Jumat, 10 Maret 2017

Weekend Getaway di Bukittinggi

Beberapa waktu yang lalu saya sengaja kabur dari hiruk pikuk kota Padang ke Bukittinggi. Bukan tanpa alasan sebenarnya, karena saya memang ingin mencari bahan untuk skripsi mahakarya yang kabarnya ada di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Jadi bukan sekedar getaway 😂😂

Saya berangkat dari Padang menggunakan travel minibus yang biasa mangkal di sekitaran Basko Grand Mall yang ongkosnya hanya Rp 20.000,-. Berangkat bareng junior saya, Anil yang juga mau pulang kampung ke Bukittinggi coret. Berhubung saya berangkat Jumat sore sekitar pukul 16.00, arus lalu lintas Padang-Bukittinggi cukup padat. Maklum, Bukittinggi merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Sumatera Barat. Belum lagi tiap weekend banyak mahasiswa yang pulang ke daerah asalnya.

Senin, 13 Februari 2017

[NONTON] Cek Toko Sebelah

Judul Film : Cek Toko Sebelah
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Sutradara : Ernest Prakasa
Penulis Skenario : Ernest Prakasa, Jenny Yusuf, Meira Anastasia
Aktor : Ernest Prakasa, Dion Wiyoko, Chew Kinwah, Ardinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Asri Welas, Yeyen Lidya, Dodit Mulyadi
Tanggal Rilis : 28 Desember 2016
Durasi : 98 menit

Koh Afuk (Chew Kinwah), juragan toko kelontong Jaya Baru memiliki dua orang anak yang berkebalikan. Si sulung Yohan (Dion Wiyoko) bekerja sebagai fotografer dengan penghasilan yang pas-pasan. Sementara si bungsu Erwin (Ernest Prakasa), menjadi eksekutif muda yang sukses karirnya.

Permasalahan timbul ketika Koh Afuk yang sudah sepuh dan penyakitan ingin menyerahkan toko kesayangannya kepada Erwin. Erwin yang kala itu sedang berada di puncak karir mengalami kebimbangan antara terbang ke Singapura demi karir yang lebih cemerlang atau tinggal dan mengurus toko keluarganya yang dibangun orang tuanya. Hal ini menyebabkan Yohan semakin cemburu kepada adiknya yang dianggap sebagai kesayangan ayahnya. Masalah semakin runyam ketika toko koh Afuk ditawar seorang pengembang (Tora Sudiro) yang menyebabkan Koh Afuk dilarikan ke rumah sakit.

Komitmen Hidup di Luar Negeri

Siapa sih, yang tak ingin hidup di luar negeri? Bagi saya yang selama nyaris 22 tahun hidup di tanah kelahiran, hidup (kerja/kuliah) di luar negeri adalah satu dari beragam keinginan yang saya tulis di bucket list saya. Paling tidak, menjejakkan kaki untuk sekedar travelling juga boleh.

Sayangnya, niat saya untuk berkelana ke luar negeri terharang restu orang tua yang memang susah jauh dari anak-anaknya. Jangankan untuk keluar negeri, ikut kegiatan ILMPI di luar kota saja saya izinnya paling tidak tiga bulan menjelang berangkat (yep, you read it right!). Belum lagi syarat untuk tinggal di luar negeri buat saya adalah harus nikah dulu. Nah, berat kan? Berhubung belum nikah dan belum berniat untuk menikah dalam waktu dekat untuk sementara saya hanya bisa blogwalking membaca kisah para blogger yang hidup di luar negeri. Salah satunya adalah mbak Alfa yang kini menetap di Brunei.

Saya dan mbak Alfa memiliki setidaknya dua kemirpan. Kami sama-sama berkacamata dan memiliki latar belakang psikologi. Yah, kalo mbak Alfa sih udah kelar kuliahnya, beda sama saya yang masih jungkir balik sama skripsi.

Kamis, 26 Januari 2017

Tentang Rindu yang Tertinggal di Palembang

Buat yang ngikut instagram saya pasti tau banget kalo seminggu kemaren saya lagi ada kegiatan di Palembang. Minggu kemaren baru nyampe Padang lagi. Pegel-pegel masih belom hilang. Sepanjang perjalanan kena turbulance mulu, dan transitnya cuma cukup buat numpang pipis doang di bandara Hang Nadim Batam, gak sempat makan siang (transit macam apa itu!)

Anyway saya gak mau cerita kayak gimana kegiatannya karena intinya cuma rapat dan musyawarah, standar organisasi lah yaaaa. Gak perlu diceritain karena gak jauh beda kayak waktu pertama ikut muswil ILMPI dulu. Cuma entah mengapa, sekalipun sudah kelima kalinya saya mengikuti agenda ILMPI (ini muswil keempat yang saya ikuti, btw), euforianya masih berasa banget. Saya sendiri kadang masih gak ngeh kalo udah di Padang, bukan di penginapan bareng si Adek.



Selasa, 03 Januari 2017

Dove Hair Fall Treatment Shampoo & Conditioner

Desember kemaren saya dikirimi paket Dove Hair Fall Treatment Shampoo & Conditioner dari Home Tester Club. Kebeneran banget dari kemaren-kemaren shampoo yang saya coba gak ada yang berhasil mengurangi rambut rontok saya. Maklum, setiap hari memakai jilbab selama kurang lebih delapan jam membuat rambut saya gampang banget lepek, keringetan, dan rontok. Sayang banget kan, padahal rambut saya lumayan panjangnya.