Jumat, 23 Januari 2015

[BOOK REVIEW] Sepotong Kata Maaf - Yunisa KD

Cover diambil dari web penulis
Judul: Sepotong Kata Maaf
Penulis: Yunisa KD
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2013
Tebal: 300 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-251-132-8

Ini adalah kisah nyata seorang gadis yang menolak untuk meminta maaf meskipun telah berulang kali diajukan permintaan resmi agar ia melakukannya. Dia meninggal 7 kali oleh pena seorang novelis. Itulah cara ringan untuk merangkum cerita ini.

Dalam dimensi yang berbeda, hidup memang seperti persamaan matematika: ada berbagai variabel  dan konstanta. Kematian seorang gadis bermoto "Maaf tampaknya adalah kata tersulit" itulah sang konstanta

***

On a wedding ceremony, there's a girl who seems to misbehave to the groom. The bride (and her entire family) get angry and ask the girl to apologize. Then the problem getting bigger because the girl did not (even eager) to apologize. At the end, the girl tragically died (in my opinion) before she gets sorry. Tragic

Terakhir kali saya menulis review seenak jidat adalah ketika saya menulis review Rapuh, yang mana diakui penulisnya bukan karya andalannya. Kalau penulis yang satu ini, well, nggak tahu lah ya. I don't even know there's an author named Yunisa KD before I got this book.

Dari review-review goodreaders kayaknya novel ini benar-benar kisah nyata ROM (Registration of Marriage--pencatatan sipil pernikahan Singapura) si penulis, pantas aja saya merasa novel ini penuh dengan aroma dendam kesumat. Jadi semacam pengen bikin list ala-ala reviewannya Rapuh kemaren deh. Saya mau minta maaf terlebih dahulu kalau kemudian tulisan ini mulai gak terkendali dan menyinggung penulis. Saya gamau dibunuh lewat pena *dikeplak*

Saya gamau bahas misediting lah ya, itu mah urusan editor. Saya bukan editor jadi gamau ngomentarin. Firstly saya mau bahas tentang tokoh dulu.
  1. Jeremy, yang di narasinya academically genius tapi malah dibilang goblok sama istri sendiri. Saya heran, si Jeremy mau-mau aja ya, dikatain goblok sama istri sendiri. Dimana-mana juga gak ada yang mau dikatain goblok =,=
  2. Dewi, yang di narasinya mengagung-agungkan adat ketimuran tapi sendirinya ngatain suaminya goblok. Ralat. Double goblok. Saya gak itung deh berapa kali si Dewi ini ngatain suaminya sendiri goblok, yang jelas berkali-kali. Kalau emang mau bikin tokoh Dewi ini sesuai adat ketimuran ya harusnya konsisten lah yaaaaa. Mangkel boleh, kesel boleh, marah boleh, tapi kalau ngatain suami sendiri goblok saya rasa that's a big no no.
  3. Lisa Hisman a.k.a Ganjen. Wajar lah ya perempuan kalau udah mangkel sama satu orang biasanya langsung ganti nama tu orang pake nama samaran lain. Dari narasinya sih digambarin kalau si Lisa Ganjen ini sejenis makhluk Tuhan yang muka tembok, muka badak, gak beretika, dan seterusnya, dan sebagainya. Intinya 100% antagonis, gak ada bagus-bagusnya. Ini nih, yang bikin aura dendam di novel ini berasa banget.
  4. Armand, yang menurut narasinya miserable banget jadi cowok. Sebelas dua belas lah ya sama Jeremy. Cuma bedanya Armand belom jadi suami orang dan kayaknya sih Armand ini lebih tegas dikit dibanding Jeremy. Dikit tapi.
  5. Roger  Danuarta, yang nongol di beberapa bab. Saya rada heran kenapa ini tokoh mendadak dangdut muncul. Kamsud eh  maksudnya apah? Engga perlu ada si Roger ini juga plotnya tetep nyambung kok. Malah karena ada tokoh ini saya malah ngerasa plotnya jadi aneh. Gak nyambung gitu. Kenapa gak dibuang aja ini tokoh? Mana nongolnya gak jelas pula kenapa bisa nongol *kemudian digaplok*
Lah, bahas satu sisi aja udah begini banyak ya ternyata. Oke. Secondly. Saya sih oke-oke aja sama plot time travel. Teorinya juga gak jauh beda sama yang sempat diterangin temen saya yang kebetulan jago fisika. Cuma eksekusi plotnya bikin bingung. Apalagi di beberapa bab sempat ada pertukaran point of view antara Jeremy sama Dewi. Mungkin maksudnya biar ceritanya lebih clear kali ya. Tapi buat saya itu mah boros kata. Konsisten di satu POV juga gak bikin plotnya rusak kok.

Selain itu saya ngerasa ada hole di sana sini. Terutama di bagian yang ada Rogernya. Gak dijelasin tuh kenapa si Roger ini bisa punya chip mesin waktu kayak Jeremy. Entah dia nyolong atau dia berasal dari masa di mana mesin waktu udah bisa dibeli di supermarket, gak jelas. Cuma Tuhan dan penulis yang tau.

Terakhir, saya (kalau bisa) pengen buang semua quote-quote gak penting yang bertebaran di novel ini. Ganggu bok! Kalaupun mau nyisipin quote saran saya nih ya ditulis pake bahasa Indonesia ajah, gausah pake bahasa Inggris segala. Boros kata kalau menurut saya mah. Gak ganggu plot juga kalau cuma pake bahasa Indonesia ajah.

Sebenernya banyak sih yang miss di novel ini. Tapi kalau saya bongkar semua entar pada gak mau baca. Kan kasian penulisnya wkwk. Udin lah ya segitu dulu. Aku kasih dua bintang di Goodreads. Thanks to the epilog yang lumayan menghibur.
"Kebenaran tetap benar, jahat tetap jahat. Mau dipikir seabad, faktanya tidak akan berubah. Berpikir saja tanpa bertindak, itu tidak ada gunanya" - halaman 105
dedicated to reading challenge

    

Kamis, 22 Januari 2015

Kembalikan Lagu Anak-Anak ke Pangkuan Anak-Anak!

Sewaktu kopdar kemaren ada suatu peristiwa yang mengganjal pikiran saya, bahkan sampai kopdar bubar jalan dan saya balik ke rumah. Bahkan sampai berhari-hari setelah kopdar

Jadi pas kopdar kemaren para blogger pencari wangsit nongkrong di teras lantai 2 Texas Juanda. Kebetulan di dalam ada pesta ultah dedek-dedek unyu yang bikin kita-kita pada gemes. Awalnya kita (atau tepatnya saya) seneng-seneng aja, lumayan nostalgila denger lagu anak-anak jaman baheula. Saya berasa pembersihan kuping :)))

Tapi kemudian suasana itu berubah ketika negara api menyerang saya melewati kerumutan dedek-dedek unyu yang lagi joget. Terpaksa. Soalnya cuma itu satu-satunya jalan ke toilet dan saya udah kebelet gak tahan memenuhi panggilan alam. Ternyata oh ternyata dedek-dedek unyu itu lagi joget bareng emaknya dengan iringan dangdut koplo yang liriknya... ah sudahlah

Intinya lirik lagunya gak sinkron sama umur dedek-dedeknya yang masih belum sunat dan belum mens. Bayangin aja, dedek-dedek yang kalau jalan masih suka minta gendong sama emaknya ini udah dikasih denger lagu yang liriknya cinta-cintaan. Gedenya jadi apa dong?

Dulu tuh ya jaman saya masih jadi dedek-dedek unyu, yang ngetrend itu bukan jargon "sakitnya tuh disini" Cita Citata. Tapi boneka unyu yang bisa ngomong dan rada centil

Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa?
Pic from google.com
Siapa sih, yang gak ingat Susan yang pengen jadi dokter? Percaya atau tidak, tokoh Susan ini sukses bikin anak-anak 90an nurut sama orangtuanya. Saya inget bener kalau gamau makan langsung dibanding-bandingin sama si Susan ini wkwkwk. Alhasil saya makan dong, masa kalah sama Susan :)))

Lagu-lagu jaman 90an mah, kayaknya terorgansir sesuai umur. Kalau dedek-dedek unyu macam saya dengerin lagu-lagu Trio Kwek-Kwek, Zaskia Geofanny, Joshua, Eno Lerian, atau jaman-jaman Agnes Monica belum nyanyi Coke Bottle dan pipi Tina Toon masih se-chubby bak pao.

I grew up with those amazing trio
Pic from google.com
Lagu buat anak-anak ada, plus moral value yang disisipin. Ada lagu yang ngajarin nabung, ngajarin sayang orangtua, sampai lagu buat bujuk makan kayak lagu Abang Tukang Bakso (dan saya doyan bakso gara-gara lagu ini!). Kalau sekarang? Haduuuuh denger anaknya nyanyi Sakitnya Tuh Disini itu emak-emak langsung pada girang gak ketulungan. I feel sorry for them

Tadi pagi saya nonton sebuah talkshow di salah satu stasun televisi swasta (tayangan ulang, bukan live). Kebetulan bintang tamunya adalah Papa T. Bob, yang notabene adalah pencipta lagu anak-anak. Beberapa lagu anak-anak karyanya bahkan sempat diputar ulang sebentar, membuat saya teringat masa kecil saya. I grew up with Papa T. Bob, Pak Kasur, Bu Kasur, and those who write song for children on 90's. Saya tumbuh bersama mereka, saya tumbuh bersama anak-anak yang mereka ajarkan menyanyi. Saya gede bareng Trio Kwek-Kwek, Kak Ria Ernes, Tasya, Joshua, dan penyanyi-penyanyi cilik yang sekarang udah sama gedenya sama saya.

Saya senang sekali ketika Papa T. Bob (on TV, of course) mengatakan sedang mengerjakan proyek lagu anak-anak. Kata beliau, ada sekitar lima puluhan anak-anak yang terlibat, sejak setahun yang lalu. Dan saya sangat-amat-teramat (lebay!) berharap proyeknya Papa T. Bob rampung sesegera mungkin. Saya udah gak tahan liat anak-anak yang bergaya layaknya orang dewasa.

Lastly, I would like to say (as Papa T. Bob said) to all of my fellas
Kembalikan lagu anak-anak ke pangkuan anak-anak. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak yang bahagia dengan dunianya. Biarkan mereka dewasa pada waktunya, sehingga mereka tidak seperti buah--matang karbitan
Let them smile  naturally
Pic from here

Rabu, 21 Januari 2015

[BOOK REVIEW] The Pilgrimage

Cover diambil dari Goodreads.com
Judul: The Pilgrimage (Ziarah)
Penulis: Paulo Coelho, Eko Indriantanto (penerjemah)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011
Tebal: 263 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-979-22-6719-8

Dalam novel ini, yang terbit sebelum The Alchemist -- Sang Alkemis, Paulo menempuh perjalanan untuk mencapai pengetahuan diri, kebijaksanaan, dan penguasaan spiritual.

Dipandu oleh teman seperjalanannya yang misterius bernama Petrus, Paulo menyusuri jalan ke Santiago yang suci, melalui serangkaian cobaan dan ujian sepanjang jalan -- bahkan bertatap muka dengan seseorang yang mungkin sang iblis sendiri. Kenapa jalan menuju hidup sederhana ternyata sangat sulit? Apakau Paulo akan menjadi cukup kuat untuk menggenapkan perjalanan menuju kerendahan hati, kepercayaan, dan keyakinan?

Paulo Coelho adalah pencerita yang memukau, menginspirasi orang di seluruh penjuru dunia untuk melihat lebih dari hal yang biasa menuju hal yang menakjubkan

***

Ini adalah kali pertama saya membaca karya Paulo Coelho, meskipun saya sudah mengenal kiprah penulis kelahiran Brazil ini. Ini juga kali pertama saya membaca buku bernuansa Kristiani, jadi saya cukup berhati-hati membacanya.

Novel ini berkisah tentang perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, yakni sebuah perjalanan menuju makam Santiago yang terletak di tanjung Iberia, yang dalam sejarah kekristenan merupakan salah satu murid Isa al Masih.
"Kau harus ke Perancis, ke Saint-Jean-Pied-de-Port, dan mencari Mme Lourdes di sana. Dia akan mengantarmu menemui seseorang yang akan memandumu sepanjang Jalan menuju Santiago" - halaman 18
Awalnya saya mengira novel ini semacam biografi Paulo, meski saya tidak begitu yakin. Saya tidak mengenal Ordo Tradisi (atau ordo RAM), dan saya tidak yakin adanya ordo dengan ritual magis dalam dunia kekristenan. Tapi dari Goodreads saya mengetahui bahwa novel ini memang terinspirasi dari pengalaman Paulo sendiri ketika melakukan perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, meski alurnya dimodifikasi menjadi karya fiksi.

Berbeda dengan kisah nyatanya, dalam novel ini Paulo diceritakan melakukan perjalanan ziarah  untuk mencari pedang atas perinta guru dari ordonya.
"Aku memilih untuk menempuh Jalan menuju Santiago dalam rangka mencari pedangku. Pedang itu menjadi benda terpenting  dalam  hidupku sekarang, dan aku harus memikirkan cara agar dapat menemukannya. Aku harus membuat keputusan yang tepat" - halaman 
Yang menarik bagi saya dalam novel ini adalah kisah-kisah historikal yang dituturkan Petrus -- pemandu Paulo dalam perjalanan ziarah. Kisah-kisah yang diceritakannya penuh pesan moral tentang cinta kasih -- tipikal kekristenan.
"Berabad-abad silam, seorang putri yang menempuh Jalan menuju Santiago, Felicia dari Aquitane, memutuskan untuk meninggalkan segala yang ia punya dan menetap di sini dalam perjalanan kembali dari Compostela. Ia adalah sang cinta sendiri, karena ia membagikan semua kekayaannya untuk orang-orang miskin di daerah ini dan mulai merawat mereka yang sakit" - halaman 57
 Saya juga membaca sedikit tentang Islam, ketika Paulo membandingkan ibadah haji (dalam novel ini disebut ziarah) dengan ibadah ziarah umat Kristiani menuju tiga jalan yang mereka anggap suci
"Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad yang berziarah dari Mekkah ke Madinah setidaknya sekali seumur hidup, umat Kristiani pada abad pertama juga diharapkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci" - halaman 20
Bagi saya yang menggemari novel melodrama, sedikit susah untuk memahami tulisan Coelho yang penuh filosofis. Itu mungkin (menurut saya) itu saya berbeda keyakinan dengan Coelho, sehingga saya sedikit terganggu dengan filosofi-filosofinya yang sangat kental dengan kekristenan. Tapi tidak begitu bermasalah, karena filosofinya toh tidak begitu berbeda dengan ajaran agama yang saya anut.

dedicated to reading challenge

    

Selasa, 20 Januari 2015

Lucky No. 15 Reading Challenge Master Post

Bisa dibilang saya sudah mulai sedikit melenceng dari tema blog ini. Niat awal saya mau menjadikan blog ini sedikit fashionable. Tapi apa daya, saya pemamah segala macam buku. Akibatnya saya jadi ketagihan ikut reading challenge yang berserakan. Tapi saya sama sekali gak berniat membuat blog baru (lagi) untuk review buku yang saya baca. Repot bok!

Jadi ceritanya tadi saya baca postingan master post reading challenge nya kak Ren saya jadi ngiler. Jadilah saya ikutan Lucky No. 15 Reading Challenge. Peraturannya simpel sih, baca minimal 15 buku dari 15 kategori yang berbeda. Bisa satu tiap kategori atau menyesuaikan. Sesuai kemampuan aja.

yang mau ikutan sila ke sini

Chunky Bricks: baca buku dengan tebal lebih dari 500 halaman.
Yang akan saya baca: saya bakalan baca lanjutannya InkheartInkspell. Tebalnya jauh lebih tebal dari Inkheart, sekitar 600an halaman. Semoga saya kuat bacanya, karena saya jarang banget baca buku tebal.

Something New: baca buku yang baru dibeli
Yang akan saya baca: saya lupa buku apa yang terakhir saya beli. Tapi kalau buku yang sampai sekarang masih tersegel, ada banyak. Jonathan Strange & Mr. Norris salah satunya.

Something Borrowed: baca buku pinjaman #timpinjamhore #timgretongan
Yang akan saya baca: dari dulu saya pengen pinjam bukunya kak FhiaFT, tapi gak pernah kesampaian. Jadi mungkin saya mau minjam Bumi Manusia sama kak FhiaFT. Atau kalau gak jadi, saya mau pinjam novelnya Roald Dahl punya dad Aulhowler

It's Been There Forever: baca buku timbunan
Yang akan saya baca: Mimpi Bayang Jingga

Freebies Time: baca buku gratisan #timgretongan
Yang akan saya baca: terakhir saya dapat buku gratis dari partner in crime saya. Ada tiga buku yang dikasihnya, tapi buat challenge ini saya pilih Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Bargain All The Way: baca buku yang dibeli saat diskon besar-besaran (huahahahaha!)
Yang akan saya baca: kebetulan saya lagi baca The Pilgrimage, dan kebetulan saya beli buku ini saat diskon, cuma Rp 20.000,- saja *evilsmirk*

Favorite Collor: baca buku yang covernya warna kesukaan kita
Yang akan saya baca: to be added

First Initial: baca buku dengan inisial pengarang yang sama dengan kita
Yang akan saya baca: to be added

Super Series: baca buku serial
Yang akan saya baca: to be added

Opposite Attract: baca buku yang pengarangannya berlawanan jenis kelamin dengan kita
Yang akan saya baca: Here, After karangan Mahir Pradana

Randomly Picked: baca buku yang dipilihkan orang lain
Yang akan saya baca: to be added. Mungkin nanti saya akan minta adik saya untuk memilihkan buku

Cover Lust: baca buku yang covernya menarik
Yang akan saya baca: to be added. Ada banyak buku yang covernya menarik hati saya. Jadi mungkin bakalan lama milihnya

Who Are You Again: baca buku yang penulisnya belum dikenal
Yang akan saya baca: Sepotong Kata Maaf, buku hadiah dari teman saya

One Word Only: baca buku yang judulnya cuma 1 kata
Yang akan saya baca: Mahabharata

Dream Destination: baca buku yang latarnya jadi tempat impian kita
Yang akan saya baca: to be added

Yak. Semoga ini jadi reading challenge terakhir saya. Semoga

Sabtu, 17 Januari 2015

[BOOK REVIEW] Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu - Ragdi F. Daye

Cover diambil dari Goodreads.com
Judul: Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu
Penulis: Ragdi F. Daye
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 180 halaman+vii
Format: Paperback
ISBN: 9786-0284-2681-6

Kisah cinta yang gugup, identitas orang kampung yang menggigil karena deru modernitas, dan tradisi Minangkabau yang meleleh, adalah pusaran yang kuat dalam tema-tema kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu. Dengan alur yang cerdas dan bahasa yang memukau, kisah-kisah di dalam buku ini akan membawa kita ke dalam makna cinta, kemanusiaan, dan keberadaan tradisi yang sesungguhnya.

***





Ini buku kumcer pertama yang saya baca tahun ini, dan kali ini saya baca kumcer karya penulis yang benar-benar lokal. Ragdi F. Daye adalah urang awak, orang Minang asli. Meski saya tidak tau persis dimana Minangnya.

Saya ingat sewaktu masih berguru menulis pada bangDod, buku ini termasuk salah satu rekomendasinya untuk dibaca. Terutama karena cara Ragdi mendeskripsikan sebuah scene dengan detil.
Kau meraih sendok alumunium yang telungkup di atas daun pisang dalam piring plastik berisi sate pesananmu. Jari-jari tangan kirimu menjepit sebatang lidi yang ditancapi lima potong lokan berlumur kuah merah kecoklatan. Kauangkan lidi itu. Membawanya ke depan mulut. Bibirmu terkuak. ujung lidi itu menyentuh bibirmu yang pecah-pecah. Kau menggigit sepotong sate. Menarik lidi itu secara perlahan sehingga potongan itu tertawan di mulutmu. - Perempuan Bawang, halaman 2
Perut saya langsung berbunyi setelah membaca paragraf di atas. Deskripsi Ragdi benar-benar detil. Bukan hanya itu, Ragdi juga menyelipkan kata-kata berbahasa Minang dalam cerpen-cerpennya. Bahkan, beberapa diantaranya adalah kata yang sudah dibakukan dalam KBBI. Tapi sayang, hanya beberapa cerpen saja yang diselipkan catatan kaki, menjelaskan frasa-frasa berbahasa Minang yang ada dalam cerpennya. Untuk saya yang sejak pandai bicara sudah mengenal bahasa Minang tentu tidak masalah. Tapi untuk orang-orang yang tidak kenal bahasa Minang sama sekali, tentu sedikit kesulitan.

Tapi itu gak masalah besar sih, toh gak terlalu mempengaruhi jalan cerita juga. Overall, Ragdi sukses mengangkat tema lokal dalam cerpennya. Tentang tradisi Minang yang mulai melebur dalam modernitas yang sok kebarat-baratan. Juga tentang kesenjangan sosial di masyarakat yang bagai langit dan bumi.

dedicated to reading challenge

Laporan Kopdar Pemanasan dan Perayaan Ultah Palanta ke-7

Jadi ceritanya Desember kemaren udah wacana buat bikin kopdar bulan Januari. Kopdarnya bukan kopdar dadakan seperti yang sering terjadi belakangan, tapi kopdar gede-gedean kayak berabad-abad beberapa waktu lalu. Setelah saya getol-getol minta usulan tanggal, jam, dan lokasi, akhirnya terkumpullah sembilan blogger yang berniat mencari wangsit di Texas Juanda *eh*. Sembilan blogger itu adalah kak FhiaFT, kak Titi, kak Siska, bang Ferdi, bang Aul, Uda Zami, bang Sabli, bang Emen dan tentunya saya sendiri yang paling cantik di tongkrongan ini *halah*

Yang duluan dateng, aku sama kak FhiaFT
Dulu waktu pertama ketemu kita dibilang kembar

kata Udarian sih, bang Aul gendutan :))
Seperti biasa kita perkenalan dulu, soalnya kak Siska sama bang Sabli baru pertama ikut kopdar (semoga engga kapok ikut kopdar). Abis itu kita ngerayain ultah Palanta deh*walaupun telat*

Kuenya unyuk! Kayak yang beliin *ahik*
Pas tiup lilin. Kuenya silahkan di-zoom
Abis tiup lilin kita ngalor ngidul tanjung priuk dan berakhir dengan nostalgila generasi 90an. Mulai dari kartun jaman baheula seperti Saint Seiya, Cardcaptor Sakura, Sailor Moon, sampe sinetron jadul kayak Tersanjung yang seasonnya ngalahin anime Jepang. Astaga, tua sekali kita.

Kita akhirnya bubar sekitar jam 5an, udah bosan soalnya di sebelah ada perayaan ultah anak-anak, dan mereka lagi joget pake lagu cinta-cintaan =,=

See you next kopdar bloggers! Gak sabar nyicipin masakan kak FhiaFT pas #PalantaPiknik bulan depan :D

Senin, 12 Januari 2015

[BOOK REVIEW] The Great Gatsby - F. Scott Fitzgerald

Cover diambil dari Goodreads.com
Judul: The Great Gatsby
Penulis: F. Scott Fitzgerald, Sri Noor Verawaty (penerjemah)
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2010
Jumlah halaman: 286 halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-979-024-192-3

Inilah sebuah kisah abadi tentang rumitnya cinta dan uniknya pergaulan manusia antarkelas sosial dengan berbagai karakter yang tak kalah menarik

Nick, pendatang baru di New York. Dia dipercaya orang-orang di sekitarnya untuk menyimpan rahasia mereka. Daisy, meski bermulut pedas, ditaksir banyak laki-laki. Di balik itu, dia selalu berusaha keras menutupi sakit hati karena pengkhianatan suaminya. Tom, suami Daisy sekaligus teman kuliah Nick, lelaki berpendidikan tinggi, kaya, dan berperangai kasar.  Dia suka selingkuh, tapi tidak suka diselingkuhi. Jordan, perempuan muda yang cantik dan sinis. Dia berpacaran dengan Nick. Darinya, Nick mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Daisy dan Tom dengan pasangan masing-masing.

Seperti planet-planet yang mengorbit matahari, dalam pesta-pesta mewah setiap malam Minggu, pergaulan mereka berpusat pada seorang 'lelaki misterius' bernama Jay Gatsby -- salah satu karakter paling legendaris dalam fiksi dunia. Dia muda, kaya raya, penuh pesona, tetapi diam-diam memendam sebuah cinta rahasia.

Novel legendaris ini merupakan potret kehidupan sosial masyarakatan New York  pada tahun 20-an. Setelah Perang  Dunia I, di sana bermunculan orang kaya baru yang menunjukkan lunturnya nilai sosial dan moral dalam sinisme, keserakahan, dan pemenuhan hasrat akan kesenangan duniawi.

***

Egois. Mungkin ini kata yang tepat menurut saya untuk menggambarkan tokoh-tokoh sentral dalam novel ini. Gatsby egois karena berusaha mendapatkan Daisy kembali walaupun Daisy sudah menikah. Tom egois karena tidak mau diselingkuhi Daisy sementara dia sendiri berselingkuh dengan wanita lain. Daisy egois,  karena membalas perselingkuhan Tom dengan perselingkuhan. Nick dan Jordan egois, karena alih-alih menjadi teman yang baik dan menasehati temannya tentang institusi perkawinan, mereka malah diam dan seolah mendukung perselingkuhan yang dilakukan masing-masing temannya.

The Great Gatsby adalah novel fiksi klasik pertama yang saya baca, jadi butuh waktu agak sedikit lama untuk menyelesaikan novel ini. Dan akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel ini dengan kerutan di kening.

Jujur, dalam bayangan awal saya, alur ceritanya bakalan mirip-mirip dengan film The Cassanova. Tapi ternyata seratus delapan puluh derajat berbeda. Kira-kira begini, ada lima orang yang saling berteman (dan bertetangga), tiga di antaranya terlibat perselingkuhan, dua orang lainnya mengetahui skandal mereka tapi memilih untuk bungkam, dan akibatnya salah satu dari mereka tewas. End of story.

Gaya penulisan  novel ini mengingatkan saya dengan Sherlock  Holmes. Nick sebagai narator menceritakan kisah Gatsby yang menjadi karakter utama novel ini, mirip dengan tokoh Watson yang menceritakan kisah Sherlock Holmes. Hanya beda genre saja.
"Saat kembali dari East musim gugur lalu, aku merasa bahwa aku ingin seluruh dunia ini berpakaian seragam dan berada dalam semacam pengawasan moral selamanya; aku tidak lagi menginginkan pesiar-pesiar liar dengan hak istimewa untuk melongok ke dalam hati manusia. Hanya Gatsby, lelaki yag namanya jadi judul buku ini, yang terbebas dari reaksiku -- Gatsby yang mewakili semua  hal yang telah kucemooh habis-habisan" - halaman 9
Mungkin karena saya tidak pernah baca novel klasik sebelumnya jadi saya rada-rada bingung memahami jalan ceritanya. Belum lagi dengan karakter-karakternya. 
"Saat Tom pergi meninggalkan ruangan lagi, Daisy berdiri lalu mendekati Gatsby, menarik wajanya dan mencium bibirnya" - halaman 178
See? Senekat-nekatnya orang selingkuh juga gak mungkin cipokan begitu pasangannya keluar ruangan kan?

Overall, saya suka tema yang diangkat Fitzgerald yang mengangkat kisah orang-orang Amerika pasca Perang Dunia I. I gave three stars on Goodreads.

dedicated to reading challenge

Sabtu, 10 Januari 2015

[BOOK REVIEW] Rapuh - Dodi Prananda

Cover diambil dari Goodreads.com
Judul: Rapuh
Penulis: Dodi Prananda
Penerbit: Wahyu Media
Tahun Terbit: 2013
Jumlah halaman: 168 halaman
ISBN: 979-795-775-6
Format: Paperback

Ada kebohongan dan kejujuran yang senantiasa mengelilingi kita. Begitu indahnya, sehingga kita tak tahu mana lagi batasan jelasnya. Antara diterima atau ditolak, semua abu-abu.

Ada skenario di antara sandiwara. Semua yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, justru tidak pernah mencapai realita sesunggguhnya. Ada skenario dan ada sandiwara. Skandal

Aku rapuh untuk menyadari semuanya. Aku terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sekarang hanya tinggal aku, menyelamatkan diri atau menjadi aktor yang akan menyelesaikan skenario ini. Tentu, dengan lebih banyak intrik atau justru bohong yang dipercaya.

***

Saya menyelesaikan buku ini dengan dramatis, membanting buku ini (untungnya ke kasur) dan berteriak penuh kekesalan. Frankly, saya membenci semua ide tentang penyimpangan seksual meskipun saya mempelajarinya di bangku kuliah. Apalagi jika ide itu dituangkan dalam bentuk novel, or worst, epilog novelnya.

Ini adalah buku ketiga bangDod (yep, he's one of my senior on high school) yang saya baca. Pertama kumpulan puisi Musim Mengenang Ibu dan yang kedua kumcer Waktu Pesta yang ditulis keroyokan sama temen-temennya. Jadi bisa dibilang ini novel debutnya yang pertama.

Waktu pertama saya baca sinopsisnya, saya merasa novel ini menarik dan gue banget. Tapi begitu saya membuka halaman pertama, err.. holy cow. Saya langsung pusing membaca monolognya yang... ah sudahlah.

Saya jadi agak bingung bagaimana me-review buku ini. Antara gatel mau membuat list hal-hal yang gak saya suka dari novel ini dan tidak ingin menyakiti hati penulis yang notabene masih senior yang saya segani. Tapi, semoga bangDod dan Wahyu Media membuat revisi novel ini setelah membaca list yang saya buat
  1. Monolog sebagai pembuka novel is not a good idea. Entah ini masalah selera atau tidak, tapi saya selalu suka deskripsi sebagai pembuka novel. Deskripsi tokoh utama membuat saya dengan senang hati berimajinasi tentang si tokoh dan jalan ceritanya
  2. Terlalu banyak salah ketik. Bahkan sempat ada nama tokoh yang tertukar dan bab 6 yang lenyap entah kemana. Entah ini salah penulis, atau salah editornya.
  3. Ada banyak kata "noda" yang berserakan. Saya gak hitung. Apa gak ada padanan kata yang lain? How about lumpur? *kemudian digetok*
  4. Tokoh Mayang yang saya tidak tahu apa perannya. Mungkin maksudnya agar si tokoh utama terkesan sebagai secret keeper. Tapi saya malah merasa Mayang ini seharusnya tidak usah ada. Toh tanpa tokoh Mayang, si tokoh utama tetap menjadi secreet keeper kebejatan pacar adiknya yang mesum dan perselingkuhan pacarnya.
  5. And worst, as I told before, adegan homoseksual sebagai epilog. Balik lagi, mungkin ini masalah selera. Masalah saya yang membenci semua ide penyimpangan seksual. Masalah saya yang menganggap segala masalah penyimpangan seksual cukup tertulis di jurnal dan buku diktat kuliah. Iya, ini masalah saya -_-
Secara keseluruhan saya menyukai ide ceritanya. Tentang manusia dan kebohonganya. Simpel. Tapi saya kurang menyukai eksekusinya *halah* Makanya saya cuma kasih dua bintang di Goodreads

Terakhir, saya mau mengutip sedikit moral value dari novel ini. 
"Perasaan bukan mainan, juga bukan kertas yang mudah dikoyak, diremuk sesuka hati" - halaman 26

dedicated to reading challenge

 

[BOOK REVIEW] Tintenherz (Inkheart) - Cornelia Funke

cover diambil dari Goodreads.com
Judul: Tintenherz (Inkheart)
Penulis: Cornelia Funke
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009, cetakan kedua
ISBN: 978-979-22-4271-3
Format: Papeback

Mo -- ayah Meggie -- memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi semakin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!

***

Awal pertama saya melihat buku ini di deretan buku obral Gramedia Padang, saya tidak percaya dan mengira buku ini menceritakan kisah yang berbeda dengan film Inkheart yang diperankan Brendan Fraser dan Helen Mirren beberapa tahun lalu. Tapi ternyata ini adalah kisah yang sama, dan saya mendapatkan buku ini lebih dari setengah harga aslinya *ketawa setan*

Dan demikian buku ini teronggok begitu saja sampai challenge Project Baca Buku Cetak dan New Author Reading Challenge kak Ren muncul dan mengembalikan niat saya membaca buku ini.

Karena sudah menonton film Inkheart bertahun-tahun sebelumnya, imajinasi saya agak terganggu dengan bayangan adegan di film tersebut. Butuh waktu sedikit lama untuk menyelesaikan buku ini dengan kilasan adegan film yang muncul tiba-tiba di kepala saya. Yah, walaupun tentunya alur cerita buku ini sedikit berbeda dengan filmnya.

Kalimat pembuka novel ini sedikit membosankan bagi saya. Terlalu klise, atau begitulah kesan yang saya dapat.
"Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. Bertahun-tahun kemudian Meggie tinggal memejamkan mata dan ia pun bisa mendengar bunyi itu lagi, seperti jari-jari kecil mengetuk-ngetuk jendela" - halaman 9
Entah kenapa, mungkin karena sudah nonton filmnya, novel ini jadi kurang menarik. Saya harus menguatkan diri untuk membacanya sampai akhir. Minimnya deskripsi dan cukup banyaknya dialog membuat saya susah berimajinasi. Saya juga merasa alur ceritanya sedikit cepat dan hal itu membuat saya kurang nyaman.

Sangat disayangkan Cornelia Funke tidak menggambarkan dengan jelas tokoh Meggie (atau saya melewatkan deskripsinya?), sehingga saya mengira-ngira Meggie adalah anak berusia dua belas tahun yang keras kepala, dengan rambut panjang berwarna keemasan seperti ibunya. Deskripsi latar tempatnya yang juga minim membuat saya menerka-nerka beberapa tempat yang mungkin menjadi markas Capricorn, atau villa Elinor yang penuh buku.

Satu-satunya yang menarik dari buku ini adalah kutipan-kutipan dari berbagai tulisan yang diselipkan masing-masing satu kutipan di tiap bab. Sayangnya tidak ada satupun dari kutipan itu yang saya kenali sehingga saya memilih untuk mengabaikannya alih-alih membacanya. 

Honestly, saya terkejut karena biasanya tidak ada buku yang membosankan bagi saya. Saya hanya memberi tiga bintang di review Goodreads. Buku ini sedikit mengecewakan saya, berbeda dengan filmnya yang sempat saya tonton berulang kali.

Atau mungkin selera bacaan saya yang berubah?

dedicated to reading challenge

Jumat, 09 Januari 2015

Resolusi 2015: 12 MP *eh*

Ceritanya barusan saya gabung di Indonesian Hijab Blogger terus ngeliat postingan tentang ini

Yang mau ikutan bisa langsung klik di sini

Tee hee, resolusi ya? Sebenernya udah dari tanggal 1 kemaren saya bikin resolusi di buku agenda gratisan saya dan saya posting di instagram saya. Saya kasih nama Happiness Project karena saya berharap resolusi ini memberikan kebahagiaan bagi saya, dan (semoga) bagi banyak orang.



Saya gak mau bahas semua resolusi yang saya tulis, mungkin kapan-kapan. Lagipula challenge dari IHB kan bahas resolusi blog ini, bukan resolusi saya :D

Jadi, seperti yang saya tulis di agenda saya, resolusi saya buat blog cuma satu: update blog sekali seminggu

Sejujurnya saya juga ragu menuliskan resolusi ini mengingat tahun lalu saya nyaris menelantarkan blog ini. Untuk ukuran mahasiswa tahun dua yang tugasnya lagi ampun-ampunan, mengurus hal-hal lain di luar kegiatan kampus kayaknya sulit sekali. Tapi saya percaya, kalau orang lain bisa update blog sekali seminggu, kenapa saya enggak bisa? Kan makannya sama-sama nasi *lirik si burung hantu Aulhowler*

Tapi dibalik resolusi blog yang cuma sebiji ini saya punya misi agar postingan di blog ini gak sekedar postingan kejar tayang kayak sinetron abege labil yang makin lama ceritanya makin aneh itu. Walaupun saya menulis di blog untuk bersenang-senang  tentu saya menginginkan tulisan-tulisan di blog saya bermanfaat bagi yang membacanya, sekalipun tulisan-tulisan di blog ini lebih mirip diari digital saya sih :D

Terakhir, saya berharap bisa tetap menulis di blog ini dengan fun dan mengajak orang lain untuk menulis dengan fun. Mengutip kata bang Aulhowler
More blogger friends = more fun

p.s: postingan ini saya ikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge

Kamis, 08 Januari 2015

Pindahan dan Challenge Baru

Bukan, saya bukan mau pindah rumah, pindah kampus, ataupun pindah jurusan. Tapi ini tentang keinginan saya untuk memindahkan seluruh isi blog buku saya ke blog ini dan mengarsipkannya dalam label tersendiri.

Why win, why?
Kalau alasan simpelnya sih, karena saya merasa repot mengurus tiga blog sekaligus (termasuk blog fiksi saya). Tapi kalau alasan utama saya, karena master post reading challenge yang saya ikuti saya update ke blog ini semua. Jadi toh, kenapa gak sekalian review buku yang saya baca ditulis di sini juga? Lagipula, blog buku saya sudah lama gak keurus dan cuma ada dua postingan. Hehe :D

Agak sedih juga sih, tapi mau bagaimana lagi. Saya juga sedikit kerepotan mengelola beberapa blog sekaligus. Semoga dengan ini blog saya tidak terbengkalai lagi meskipun sudah masuk kuliah lagi. Amin.

Selain mengumumkan kepindahan blog buku saya, saya juga mau share reading challenge lain yang saya ikuti. Masih dari kak Ren juga sih, yang ngadain. Tapi challenge yang dikasih nama New Author Reading Challenge 2015 ini lebih menarik dari challenge baca buku cetak karena ada level dan kategorinya. Karena masih newbie saya memutuskan mengambil level easy (15 buku) dengan dua kategori tambahan What's In a Name dan Support Local Author

Buat yang mau ikutan bisa klik di sini

What's In a Name ini adalah kategori buku yang nama tokoh utamanya tercantum dalam judul bukunya. Kayak Harry Potter misalnya :D Kalau Support Local Author pasti sudah jelas, kalau penulisnya harus Warga Negara Indonesia :D Untuk kategori yang satu ini saya punya banyak list buku yang ingin dibeli dan dibaca :D

Yak, segitu dulu ah. Saya mau lanjut baca buku buat Project Baca Buku Cetak kak Ren dulu :D

Minggu, 04 Januari 2015

Book Resulution: Mending Baca Buku Daripada Baca Timeline Mantan

Jujur, sejak kuliah jarang banget baca buku. Kalaupun ada buku yang saya baca itu juga diktat kuliah, jurnal, slide presentasi dosen, contekan catetan, dan kawan-kawan. Baru pas liburan begini saya sempat baca novel, itu juga novel-novel lama yang saya beli jaman SMA dan sudah berulang kali saya baca (dan beberapa sudah mulai lupa jalan ceritanya). Kebetulan saya bukan tipe penimbun bacaan, jadi semua buku yang ada di rak saya sudah pasti telah saya lalap terlebih dahulu sejak robekan plastik pembungkus yang pertama.

Oke, abaikan intronya.

Jadi, beberapa waktu lalu kak Fhia ngajakin ikut Goodreads Reading Challenge 2015. Kebetulan tahun ini saya juga punya wacana baca banyak novel lagi (semoga kesampaian), jadi saya putuskan membaca 120 buku. Well, jangan kaget dulu. 120 buku ini enggak semuanya novel kok. Sepuluh buku diantaranya sudah bisa dipastikan adalah diktat kuliah (dan alhamdulillah sebagian udah punya karena mata kuliah semester 4 kebanyakan adalah mata kuliah lanjutan dari semester 3). Selain itu saya berniat untuk membaca setidaknya sepuluh jurnal untuk masing-masing mata kuliah untuk menghindari tugas review jurnal yang pastinya ada di setiap semester. Dan sisanya adalah bacaan ringan pengisi waktu luang.

Nah, pas lagi blogwalking, ternyata kak Ren lagi bikin challenge juga. Tapi bedanya di challenge ini kita harus baca buku cetak.

Project Baca Buku Cetak nya kak Ren



Oke, karena selama libur saya berniat membaca ulang semua buku di lemari dan berniat menambah timbunan buku karena nyokap berniat bikin rak buku lagi di kamar saya, saya putuskan untuk memberi target 40 buku cetak untuk memenuhi challenge kak Ren dan kalau sempat akan saya buat review bukunya di blog buku saya. Tapi master post tetap akan saya buat di blog ini. Hitung-hitung biar blog ini gak berdebu lagi terus diledek anak palanta lagi karena gak ngeblog. Hahaha :D

So far segitu dulu deh reading challenge nya. Kalau kebanyakan entar saya gak sanggup XD saya kan baru tahun ini ikut challenge beginian hehehe :D Anyway, wish me luck!