Sabtu, 12 Oktober 2013

10 Hal yang Akan Saya Lakukan Jika Menjadi Psikolog

Sepertinya blog ini sudah SANGAT LAMA tidak update. My fault sih, sebenernya. Saya belum bisa beradaptasi dengan jadwal baru kehidupan saya #cailah. Sebenarnya saya sering (ralat: SANGAT SERING) buka laptop, tapi yang saya lakukan pertama kali adalah membuka program Ms. Word dan mengetik makalah-makalah tugas kuliah saya. Gak banyak sih, mata kuliah yang dosennya memberikan tugas. Tapi apa daya berhubung penyakit malas saya sering kumat #plak saya jadi keteteran sendiri. Padahal seharusnya banyak yang bisa saya posting di blog ini, tapi... ah, sudahlah.

Oke, jadi ceritanya saya ditantang untuk menulis #SerbaSepuluh oleh Blogger Palanta. Sebenernya ini tantangan udah dari seminggu yang lalu, tapi berhubung lagi UTS, jadi baru sempat bikin sekarang #halah #alesan. Oke, kita mulai aja #berasaMC

Jika saya menjadi psikolog, saya akan:
  1. Membuka praktek konsultasi psikologi anak dan remaja. Yep, khusus anak dan remaja. Ini udah cita-cita saya sejak kelas 2 SMA lalu (iya, cita-citanya baru 2-3 tahun belakangan). Soalnya saya sering liat banyak remaja yang mengumbar privasi di jejaring sosial, terutama masalah-masalah yang saya anggap sebagai privasi. Saya pikir, daripada mereka berkoar-koar di jejaring sosial tanpa ada penyelesaian masalah, lebih baik mereka mendatangi satu orang sebagai tempat curhat dan meminta solusi. In my opinion sih yaaa :)
  2. Bekerja di kepolisian sebagai psikolog forensik. Oke, ini optional sih. Berawal dari obrolan absurd dengan papa ketika seorang psikolog forensik nongol di tv. Kayaknya keren juga gitu, berhubungan dengan kasus-kasus. Serasa jadi detektif. Hehe :D
  3. Keliling dunia. Nah, ini cita-cita lama saya. Somehow saya selalu berkhayal untuk mengelilingi dunia, menjelajahi tempat-tempat baru dan eksotis. Memotret, menikmati keindahan alam, mencicipi aneka makanan khas akan menjadi sangat menyenangkan, apalagi ditemani oleh seseorang #ahik.
  4. Mendirikan sekolah. Oke, saya ketularan teman saya, bang Faudzan Fadri, yang sudah menjadi seorang guru sekolah dasar di Jakarta. Tiap sebentar teman saya ini selalu memposting tulisan di facebook tentang kegiatan mengajarnya. Entah tentang murid-muridnya yang luar biasa, pengalamannya sebagai seorang guru, apapun itu. Lama-kelamaan saya jadi iri sendiri. Rasanya ingin sekali segera menamatkan pendidikan dan berkecimpung di dunia pendidikan ataupun dunia anak-anak. It would be awesome working around kids.
  5. Bekerja untuk International Comittee of Red Cross sebagai trauma healer. Nah, kalo ini saya ketularan temen-temen saya yang berkecimpung di dunia palang merah. Pengen aja sih, hehehe :D
  6. Menjadi motivator. Dosen saya, pak Rozi, pernah berkata bahwa kebanyakan motivator yang ada di Indonesia berasal dari latar belakang akademis bukan psikologi. Secara tidak langsung saya menangkap sebuah tantangan untuk menjadi motivator dengan latar belakang akademis saya sebagai lulusan psikologi. Tapi untuk sekarang sih, cukup memotivasi diri sendiri dulu :D
  7. Menjadi wartawan. Yap! Saya tidak bisa lepas dari jurnalisme. Sudah kebiasaan, mungkin. Lagipula, wartawan adalah cita-cita saya sejak dulu dan sangat sulit melepaskan diri dari kegiatan yang mampu membuat saya lupa waktu ini.
  8. Mendirikan majalah remaja yang edukatif. Nah, ini dendam lama. Selama ini saya tidak bisa membaca majalah remaja karena artikel-artikel yang dimuat dalam majalah tersebut rata-rata adalah gosip selebritis yang notabene sangat tidak saya sukai. Satu-satunya majalah yang bisa saya baca hanya Story yang memang mengkhususkan diri pada fiksi remaja. Namun, saya ingin sekali membaca artikel yang edukatif untuk usia saya. Sayang, saya belum menemukan majalah yang seperti itu. Jadilah, saya termotivasi untuk mendirikan sebuah majalah seperti itu.
  9. Menikah. Oke, silahkan ngakak yang selebar-lebarnya. Saya memang tidak memasang target di usia berapa saya akan menikah, hanya saja saya ingin menikah ketika masa studi saya berakhir. Which is mean, saya ingin menikah ketika saya telah mendapat titel "psikolog".
  10. Menulis. Yap, I would never left my soul behind. Jiwa saya sejatinya adalah seorang penulis yang terus berproses. Akan sangat sulit meninggalkan kebiasaan menulis yang seolah sudah menjadi nafas bagi saya. I couldn't stand without writing in a day.
Oke, udah selesai juga list saya. Semoga ini bukan sekedar list  yang diposting di blog saja, namun juga terealisasikan di kehidupan saya nanti. Amin.