Rabu, 15 Mei 2013

Mengidolakan, Diidolakan


Apakah pembaca sekalian pernah atau sedang mengidolakan seseorang? Atau mungkin, diiodalakan? Well, sebagian besar pasti pernah. But my real question is, apakah Anda pernah melakukan hal-hal gila dan tak terduga demi idola Anda?

Nah, belakangan saya teringat beberapa teman perempuan saya yang rela menghabiskan uang, tenaga, bahkan waktu yang seharusnya digunakan untuk sekolah demi bertemu sang idola meski hanya dalam jarak sekian meter. Misalkan saja teman saya yang mengidolakan boyband asal Korea, Super Junior. 


Dia rela menghabiskan uangnya demi membeli CD, poster, dan segala macam pernak pernik ala Super Junior, entah yang asli atau yang bajakan. Bahkan yang lebih gila (menurut saya), dia rela menghabiskan sekian juta rupiah dan meliburkan diri dari sekolah demi menonton konser boyband idolanya ini. Gilanya lagi (menurut saya juga), dia melarang semua teman sekelasnya termasuk saya untuk membocorkan kepada guru kalau dia bolos sekolah selama beberapa hari untuk menonton konser SuJu. Which is mean, kami harus membohongi setidaknya belasan guru untuk dia. Gila.

Saya sempat bertanya kepadanya, apa tidak sayang uang sedemikian banyak dihabiskan hanya demi menonton konser yang tidak sampai dua belas jam? Dia hanya berkata dengan sangat antusias bahwa ketika kita mengidolakan seseorang, kita akan mau melakukan apa saja demi sang idola. Saya jadi ragu dia mengidolakan atau malah mendewakan.

Lain lagi dengan teman-teman saya yang laki-laki. Demi tim bola kesayangannya, mereka rela begadang subuh-subuh untuk menonton pertandingan bola dan mendukung tim kesayangannya. Entah itu Chelsea, Manchester United, Real Madrid, Barcelona, AC Milan, atau klub-klub bola lainnya. And, di pagi harinya mereka akan membahas hasil pertandingan tersebut sebelum lonceng pelajaran berbunyi. Mereka juga tahu info ter-update tentang klub bola kesayangan mereka.


Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang demikian rela melakukan apa saja demi sang idola. Well, saya juga menyukai penulis teenlit Luna Torashyngu, penyanyi Vidi Aldiano, tokoh kartun Kudou Shinichi alias Edogawa Conan (dalam komik Detektif Conan), dan pemain bola Cristiano Ronaldo. Tapi saya tidak mengoleksi secara lengkap novel-novel karya kak Luna, hanya beberapa yang memang sesuai selera saya. Saya tidak membeli atau men-download semua lagu Vidi, hanya beberapa saja yang saya anggap easy listening buat saya. Saya tidak membeli semua komik Detektif Conan, karena saya lebih suka membacanya secara online. Bahkan saya hanya punya koleksi lengkap movie dan live action-nya saja. And yes, saya hampir tidak pernah menonton pertandingan Real Madrid, kecuali melalui berita olahraga di televisi (atau ketika ayah dan adik saya menonton siaran langsungnya tepat ketika saya ingin menonton televisi). Saya menyukai, tapi tidak mengidolakan secara fanatik. I just don't want to be a fanatic fan, just it. Saya tidak mau buang-buang uang *dikeplak*

Jumat, 10 Mei 2013

Anak-Anak, Remaja, dan Junk Food*

Buat yang seumuran dengan saya (I'm 17-almost 18 years old, by the way), atau bahkan yang lebih TUA dari saya (sengaja di-caps biar sadar umur :D #kemudiandigetok), pasti sering atau setidaknya pernah makan junk food. Entah itu ka ep ci, mekdi, atau semacamnya.


Nah, saya gak bakal bahas bahaya si junk food ini karena saya yakin sudah banyak yang membahas ini. But, saya mau bahas bagaimana junk food seolah sudah menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.


Seperti yang pernah diungkapkan senior saya, entah mengapa remaja zaman sekarang lebih suka menghabiskan waktunya menikmati makanan yang jelas-jelas cukup membahayakan kesehatan mereka. Saya sendiri juga gak munafik, saya seringkali bertandang ke gerai junk food untuk sekedar menikmati es krim, menyolong wi-fi gratisan, atau ngadem. Tapi, saya pernah menemukan orang yang sama, makan makanan yang sama, di gerai junk food yang sama tiga kali berturut-turut. Saya pikir, apa orang ini tidak bosan makan junk food tiap hari? Tapi berhubung orang yang bersangkutan terlihat biasa saja jadi saya tidak begitu memperdulikannya.

Saya baru peduli ketika saya mengunjungi mekdi dan melihat banyak sekali bocah berseragam merah-putih berjejer mengantre di depan kasir. Saya kaget sekali ketika melihat sebagian besar bocah-bocah ini tidak didampingi oleh orangtua mereka. Hell, ada apa dengan orangtua zaman sekarang ini? Apa mereka tidak takut membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di gerai junk food sendirian? Bagaimana kalau mereka diculik? Dan yang paling penting, apa mereka tidak khawatir membiarkan anak-anak yang bahkan belum akhil baligh ini diracuni berbagai jenis zat kimia dari si junk food ini?

Iseng, saya pernah bertanya kepada bocah-bocah ini, kemana orangtuanya dan mengapa ia sendirian di gerai junk food ini. Jawabannya mengejutkan. Bocah-bocah ini disuruh orangtua mereka menunggu di gerai junk food untuk dijemput sepulang sekolah sembari makan siang. Nahlo, kenapa tidak menunggu di sekolah saja yang memang sepelemparan batu dari gerai junk food ini? Bukannya lebih aman menyuruh mereka menunggu di sekolah yang keamanannya lebih terjamin ketimbang gerai junk food? Saya sempat berceletuk kepada kawan saya. Jika saya punya anak, saya akan menyuruhnya menunggu di sekolah alih-alih menunggu di gerai junk food. Tentu saja, ini kelakar garing saya dengan kawan saya.

Nah, lain anak-anak, lain pula remaja. Sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar pengunjung gerai junk food adalah remaja-remaja labil yang sepantaran usia dengan saya. Alasannya ada dua. Pertama, harga makanan di gerai junk food cukup terjangkau untuk kantong pelajar yang lumayan pas-pasan. Kedua, karena gerai junk food pasti menyediakan fasilitas wi-fi bagi pengunjungnya. Alasan kedua inilah yang mendominasi, mengingat banyaknya remaja yang bertebaran di gerai junk food dengan laptop atau smartphone di hadapan mereka. Men-download, ngeblog, atau sekedar membuka situs jejaring sosial jadi kegiatan favorit mereka selama nongkrong di gerai junk food.

Well, saya sih tidak melarang blogger-blogger sekalian untuk bertandang ke gerai junk food. Tapi saya mengingatkan agar tidak terlalu sering makan makanan junk food. Sesekali bolehlah, sekedar mengganti menu agar tidak bosan. Lalu khusus kepada para ibu dan ayah, akan lebih baik jika kalian mendamping anak-anak kalian saat mendatangi gerai junk food karena jujur, saya kasian melihat anak-anak yang mendatangi gerai junk food sendirian. Mereka seolah ditelantarkan orangtuanya.

*didasari obrolan absurd di gerai junk food