Sabtu, 12 Oktober 2013

10 Hal yang Akan Saya Lakukan Jika Menjadi Psikolog

Sepertinya blog ini sudah SANGAT LAMA tidak update. My fault sih, sebenernya. Saya belum bisa beradaptasi dengan jadwal baru kehidupan saya #cailah. Sebenarnya saya sering (ralat: SANGAT SERING) buka laptop, tapi yang saya lakukan pertama kali adalah membuka program Ms. Word dan mengetik makalah-makalah tugas kuliah saya. Gak banyak sih, mata kuliah yang dosennya memberikan tugas. Tapi apa daya berhubung penyakit malas saya sering kumat #plak saya jadi keteteran sendiri. Padahal seharusnya banyak yang bisa saya posting di blog ini, tapi... ah, sudahlah.

Oke, jadi ceritanya saya ditantang untuk menulis #SerbaSepuluh oleh Blogger Palanta. Sebenernya ini tantangan udah dari seminggu yang lalu, tapi berhubung lagi UTS, jadi baru sempat bikin sekarang #halah #alesan. Oke, kita mulai aja #berasaMC

Jika saya menjadi psikolog, saya akan:
  1. Membuka praktek konsultasi psikologi anak dan remaja. Yep, khusus anak dan remaja. Ini udah cita-cita saya sejak kelas 2 SMA lalu (iya, cita-citanya baru 2-3 tahun belakangan). Soalnya saya sering liat banyak remaja yang mengumbar privasi di jejaring sosial, terutama masalah-masalah yang saya anggap sebagai privasi. Saya pikir, daripada mereka berkoar-koar di jejaring sosial tanpa ada penyelesaian masalah, lebih baik mereka mendatangi satu orang sebagai tempat curhat dan meminta solusi. In my opinion sih yaaa :)
  2. Bekerja di kepolisian sebagai psikolog forensik. Oke, ini optional sih. Berawal dari obrolan absurd dengan papa ketika seorang psikolog forensik nongol di tv. Kayaknya keren juga gitu, berhubungan dengan kasus-kasus. Serasa jadi detektif. Hehe :D
  3. Keliling dunia. Nah, ini cita-cita lama saya. Somehow saya selalu berkhayal untuk mengelilingi dunia, menjelajahi tempat-tempat baru dan eksotis. Memotret, menikmati keindahan alam, mencicipi aneka makanan khas akan menjadi sangat menyenangkan, apalagi ditemani oleh seseorang #ahik.
  4. Mendirikan sekolah. Oke, saya ketularan teman saya, bang Faudzan Fadri, yang sudah menjadi seorang guru sekolah dasar di Jakarta. Tiap sebentar teman saya ini selalu memposting tulisan di facebook tentang kegiatan mengajarnya. Entah tentang murid-muridnya yang luar biasa, pengalamannya sebagai seorang guru, apapun itu. Lama-kelamaan saya jadi iri sendiri. Rasanya ingin sekali segera menamatkan pendidikan dan berkecimpung di dunia pendidikan ataupun dunia anak-anak. It would be awesome working around kids.
  5. Bekerja untuk International Comittee of Red Cross sebagai trauma healer. Nah, kalo ini saya ketularan temen-temen saya yang berkecimpung di dunia palang merah. Pengen aja sih, hehehe :D
  6. Menjadi motivator. Dosen saya, pak Rozi, pernah berkata bahwa kebanyakan motivator yang ada di Indonesia berasal dari latar belakang akademis bukan psikologi. Secara tidak langsung saya menangkap sebuah tantangan untuk menjadi motivator dengan latar belakang akademis saya sebagai lulusan psikologi. Tapi untuk sekarang sih, cukup memotivasi diri sendiri dulu :D
  7. Menjadi wartawan. Yap! Saya tidak bisa lepas dari jurnalisme. Sudah kebiasaan, mungkin. Lagipula, wartawan adalah cita-cita saya sejak dulu dan sangat sulit melepaskan diri dari kegiatan yang mampu membuat saya lupa waktu ini.
  8. Mendirikan majalah remaja yang edukatif. Nah, ini dendam lama. Selama ini saya tidak bisa membaca majalah remaja karena artikel-artikel yang dimuat dalam majalah tersebut rata-rata adalah gosip selebritis yang notabene sangat tidak saya sukai. Satu-satunya majalah yang bisa saya baca hanya Story yang memang mengkhususkan diri pada fiksi remaja. Namun, saya ingin sekali membaca artikel yang edukatif untuk usia saya. Sayang, saya belum menemukan majalah yang seperti itu. Jadilah, saya termotivasi untuk mendirikan sebuah majalah seperti itu.
  9. Menikah. Oke, silahkan ngakak yang selebar-lebarnya. Saya memang tidak memasang target di usia berapa saya akan menikah, hanya saja saya ingin menikah ketika masa studi saya berakhir. Which is mean, saya ingin menikah ketika saya telah mendapat titel "psikolog".
  10. Menulis. Yap, I would never left my soul behind. Jiwa saya sejatinya adalah seorang penulis yang terus berproses. Akan sangat sulit meninggalkan kebiasaan menulis yang seolah sudah menjadi nafas bagi saya. I couldn't stand without writing in a day.
Oke, udah selesai juga list saya. Semoga ini bukan sekedar list  yang diposting di blog saja, namun juga terealisasikan di kehidupan saya nanti. Amin. 


Rabu, 24 Juli 2013

Another Phase of My Life

Akhirnya, setelah penantian yang super-duper lama


Alhamdulillah saya lulus di pilihan pertama :D 

Sampai sekarang saya masih speechless, gak bisa berkata-kata saking gak percayanya. I just can say thanks to God and everyone who support me. Terutama anak-anak Blogger Palanta yang banyak memberi dukungan. Kak Fhia, udarian, bang Emen, bang Angga, bang Ferdi (with his motivation words), kak Titi (yang udah mau nemenin nyari lokasi meski gajadi), and others meskipun hestek bikinan mereka sedikit menyebalkan :P

And now I'm busy with all freshmen schedule yang harus diikuti. Barusan saya mengikuti tes TOEFL, lusa saya harus ikut ESQ, dan selanjutnya ada BAKTI sehabis lebaran. Insya Allah saya bakalan aktif lagi di blog. Hehe :D

Rabu, 15 Mei 2013

Mengidolakan, Diidolakan


Apakah pembaca sekalian pernah atau sedang mengidolakan seseorang? Atau mungkin, diiodalakan? Well, sebagian besar pasti pernah. But my real question is, apakah Anda pernah melakukan hal-hal gila dan tak terduga demi idola Anda?

Nah, belakangan saya teringat beberapa teman perempuan saya yang rela menghabiskan uang, tenaga, bahkan waktu yang seharusnya digunakan untuk sekolah demi bertemu sang idola meski hanya dalam jarak sekian meter. Misalkan saja teman saya yang mengidolakan boyband asal Korea, Super Junior. 


Dia rela menghabiskan uangnya demi membeli CD, poster, dan segala macam pernak pernik ala Super Junior, entah yang asli atau yang bajakan. Bahkan yang lebih gila (menurut saya), dia rela menghabiskan sekian juta rupiah dan meliburkan diri dari sekolah demi menonton konser boyband idolanya ini. Gilanya lagi (menurut saya juga), dia melarang semua teman sekelasnya termasuk saya untuk membocorkan kepada guru kalau dia bolos sekolah selama beberapa hari untuk menonton konser SuJu. Which is mean, kami harus membohongi setidaknya belasan guru untuk dia. Gila.

Saya sempat bertanya kepadanya, apa tidak sayang uang sedemikian banyak dihabiskan hanya demi menonton konser yang tidak sampai dua belas jam? Dia hanya berkata dengan sangat antusias bahwa ketika kita mengidolakan seseorang, kita akan mau melakukan apa saja demi sang idola. Saya jadi ragu dia mengidolakan atau malah mendewakan.

Lain lagi dengan teman-teman saya yang laki-laki. Demi tim bola kesayangannya, mereka rela begadang subuh-subuh untuk menonton pertandingan bola dan mendukung tim kesayangannya. Entah itu Chelsea, Manchester United, Real Madrid, Barcelona, AC Milan, atau klub-klub bola lainnya. And, di pagi harinya mereka akan membahas hasil pertandingan tersebut sebelum lonceng pelajaran berbunyi. Mereka juga tahu info ter-update tentang klub bola kesayangan mereka.


Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang demikian rela melakukan apa saja demi sang idola. Well, saya juga menyukai penulis teenlit Luna Torashyngu, penyanyi Vidi Aldiano, tokoh kartun Kudou Shinichi alias Edogawa Conan (dalam komik Detektif Conan), dan pemain bola Cristiano Ronaldo. Tapi saya tidak mengoleksi secara lengkap novel-novel karya kak Luna, hanya beberapa yang memang sesuai selera saya. Saya tidak membeli atau men-download semua lagu Vidi, hanya beberapa saja yang saya anggap easy listening buat saya. Saya tidak membeli semua komik Detektif Conan, karena saya lebih suka membacanya secara online. Bahkan saya hanya punya koleksi lengkap movie dan live action-nya saja. And yes, saya hampir tidak pernah menonton pertandingan Real Madrid, kecuali melalui berita olahraga di televisi (atau ketika ayah dan adik saya menonton siaran langsungnya tepat ketika saya ingin menonton televisi). Saya menyukai, tapi tidak mengidolakan secara fanatik. I just don't want to be a fanatic fan, just it. Saya tidak mau buang-buang uang *dikeplak*

Jumat, 10 Mei 2013

Anak-Anak, Remaja, dan Junk Food*

Buat yang seumuran dengan saya (I'm 17-almost 18 years old, by the way), atau bahkan yang lebih TUA dari saya (sengaja di-caps biar sadar umur :D #kemudiandigetok), pasti sering atau setidaknya pernah makan junk food. Entah itu ka ep ci, mekdi, atau semacamnya.


Nah, saya gak bakal bahas bahaya si junk food ini karena saya yakin sudah banyak yang membahas ini. But, saya mau bahas bagaimana junk food seolah sudah menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.


Seperti yang pernah diungkapkan senior saya, entah mengapa remaja zaman sekarang lebih suka menghabiskan waktunya menikmati makanan yang jelas-jelas cukup membahayakan kesehatan mereka. Saya sendiri juga gak munafik, saya seringkali bertandang ke gerai junk food untuk sekedar menikmati es krim, menyolong wi-fi gratisan, atau ngadem. Tapi, saya pernah menemukan orang yang sama, makan makanan yang sama, di gerai junk food yang sama tiga kali berturut-turut. Saya pikir, apa orang ini tidak bosan makan junk food tiap hari? Tapi berhubung orang yang bersangkutan terlihat biasa saja jadi saya tidak begitu memperdulikannya.

Saya baru peduli ketika saya mengunjungi mekdi dan melihat banyak sekali bocah berseragam merah-putih berjejer mengantre di depan kasir. Saya kaget sekali ketika melihat sebagian besar bocah-bocah ini tidak didampingi oleh orangtua mereka. Hell, ada apa dengan orangtua zaman sekarang ini? Apa mereka tidak takut membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di gerai junk food sendirian? Bagaimana kalau mereka diculik? Dan yang paling penting, apa mereka tidak khawatir membiarkan anak-anak yang bahkan belum akhil baligh ini diracuni berbagai jenis zat kimia dari si junk food ini?

Iseng, saya pernah bertanya kepada bocah-bocah ini, kemana orangtuanya dan mengapa ia sendirian di gerai junk food ini. Jawabannya mengejutkan. Bocah-bocah ini disuruh orangtua mereka menunggu di gerai junk food untuk dijemput sepulang sekolah sembari makan siang. Nahlo, kenapa tidak menunggu di sekolah saja yang memang sepelemparan batu dari gerai junk food ini? Bukannya lebih aman menyuruh mereka menunggu di sekolah yang keamanannya lebih terjamin ketimbang gerai junk food? Saya sempat berceletuk kepada kawan saya. Jika saya punya anak, saya akan menyuruhnya menunggu di sekolah alih-alih menunggu di gerai junk food. Tentu saja, ini kelakar garing saya dengan kawan saya.

Nah, lain anak-anak, lain pula remaja. Sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar pengunjung gerai junk food adalah remaja-remaja labil yang sepantaran usia dengan saya. Alasannya ada dua. Pertama, harga makanan di gerai junk food cukup terjangkau untuk kantong pelajar yang lumayan pas-pasan. Kedua, karena gerai junk food pasti menyediakan fasilitas wi-fi bagi pengunjungnya. Alasan kedua inilah yang mendominasi, mengingat banyaknya remaja yang bertebaran di gerai junk food dengan laptop atau smartphone di hadapan mereka. Men-download, ngeblog, atau sekedar membuka situs jejaring sosial jadi kegiatan favorit mereka selama nongkrong di gerai junk food.

Well, saya sih tidak melarang blogger-blogger sekalian untuk bertandang ke gerai junk food. Tapi saya mengingatkan agar tidak terlalu sering makan makanan junk food. Sesekali bolehlah, sekedar mengganti menu agar tidak bosan. Lalu khusus kepada para ibu dan ayah, akan lebih baik jika kalian mendamping anak-anak kalian saat mendatangi gerai junk food karena jujur, saya kasian melihat anak-anak yang mendatangi gerai junk food sendirian. Mereka seolah ditelantarkan orangtuanya.

*didasari obrolan absurd di gerai junk food

Minggu, 28 April 2013

[BOOK REVIEW] Waktu Pesta - Dodi Prananda, dkk


Judul: Waktu Pesta; Pestanya Para Penulis!
Penulis: Dodi PranandaIntan KiranaMuhammad Mahdy, dan Tya Winduwati
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tanggal Terbit: 2013
Harga: Rp49.800,-
ISBN: 978-602-02-0582-3

Teruntuk para pembaca, atas nama cinta, kami torehkan manis dan pahitnya warna pelangi. Atas nama gelora, kami sampaikan kelam dan indahnya asa. Atas nama sang imaji, kami tunjukkan peranan tak terduga di batas khayal. Dan atas nama para penulis, kami mengundang Anda untuk berpesta!

Mari nikmati segala suasana dan ingar-bingarnya Waktu Pesta! Karena seperti yang tertulis di kartu undangan kami semasa kecil: "Tiada kesan tanpa kehadiranmu"

***

Inilah antologi cerpen empat orang mahasiswa, mengangkat topik-topik tak terduga secara apik dalam dua belas kisah yang terangkum dalam buku Waktu Pesta ini.  Dua belas kisah ini dibagi dalam empat subtema, Waktu Pesta bersama CintaGelora di Waktu PestaWaktu Pesta Sang Imaji, dan Waktu Pesta "Ku". Meski demikian, sesuai dengan judul antologi ini, para penulis tampak berpesta pora dalam tulisan-tulisannya yang seolah "berlari", berkreasi dan berpesta melalui tulisan-tulisan mereka. 

Waktu Pesta bersama Cinta
Seorang gadis Indonesia terjebak pesona lelaki Jepang ketika mengikuti pertukaran pelajar dalam K. Hidup Drian yang teratur tiba-tiba terusik oleh Mel dalam Drian dan Caramel. Maria mempertanyakan perasaannya terhadap Carl ketika mereka tengah menjalankan misi memulangkan cawan asli gereja Convento dalam Cerita Ventura.

Tiga kisah tentang dilematika percintaan dirangkum dengan apik. Tema yang biasa, sebenarnya. Namun Intan Kirana, Tya Winduwati, dan Muhammad Mahdy mampu menulisnya dengan "rasa" dan "bumbu" yang berbeda sehingga cerita-cerita ini tetap "segar" untuk dibaca.

"Seketika tubuhku berubah menjadi sebuah orkes yang agung, otakku sibuk merumuskan nada-nada dalam partitur, mulutku bersenandung dengan canggung, sementara di dadaku, ada sepasang jantung yang berdetak kencang: barangkali saja aku jatuh cinta."-Intan Kirana, K
"Berulang kali ia mengetuk-ketukan gulungan koran ke dahinya. Berusaha membangunkan manusia kecil di dalam benaknya. Berusaha menyulap kondisi hidupnya dengan instan seperti pesulap di pesta ulang tahunnya berpuluh tahun yang lalu."-Tya Winduwati, Drian dan Caramel
"Aku ingin mengumpulkan seluruh cinta dan memberikannya kepadamu. Aku ingin mengumpulkan seluruh nada dan menyanyikannya untukmu."-Muhammad Mahdy, Cerita Ventura

Gelora di Waktu Pesta
Mustafa dan Kartini memiliki latar belakang yang berbeda, dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan kalbu yang mengusik dalam Balada Juru Agama dan Pramuria. Seorang istri melepas kepergian sang suami untuk memburu paus raksasa dalam Memburu Raja Laut. Tak ada yang menyangka pertemuan Orlando dengan seorang kakek tua asal Thailand membawanya pada sebuah ketenaran di atas ring dalam A Cat In the Alley.

Tiga kisah tentang pergulatan batin dan sisi manusiawi seseorang. Seorang ustad yang mempertanyakan imannya. Seorang istri didera dilema antara mencegah atau melepas sang suami melaut. Seorang petinju merasakan kehampaan di tengah ketenarannya. Saya terkesima dengan tiga kisah ini. 

Intan Kirana berhasil menuliskan pergolakan batin yang dialami setiap manusia, menonjolkan sisi paling manusiawi seseorang melalui tokoh Mustafa yang digambarkan sebagai seorang guru agama. Dodi Prananda mengangkat tradisi berburu paus masyarakat desa Lamalera, NTT, meski titik berat kisahnya adalah (lagi-lagi) sisi manusiawi seseorang melalui tokoh sang istri. Saya menyukai alur dan berbagai trivia yang disisipkan dalam cerita ini. Muhammad Mahdy juga menonjolkan sisi manusiawi seseorang yang berada di tengah kesuksesannya. Tema yang klise sebenarnya, mengingat banyaknya cerpen dengan tema serupa. Meski demikian saya menyukai cerpen-cerpen ini karena meski temanya klise, namun mereka "meracik" cerpen-cerpen ini agar "enak" dibaca.

"Tuhan, maafkan aku. Sekali ini, sekali ini dan mungkin sudah. Aku butuh uang, dan juga butuh pemuas segala berahi: bukankah Kau ciptakan manusia dengan semanusiawin itu?"-Intan Kirana, Balada Juru Agama dan Pramuria
"Pergilah ke laut lepas, Sayang! Berburulah atas nama cinta. Apa kau masih mengingatnya? Dulu, di tepi pantai, setelah aku mengecupmu, kau menuju laut lepas. Hendak memburu raja laut. Di telingamu, aku bisikan doa. Berburulah atas nama rasa yang kita sebut cinta."-Dodi Prananda, Memburu Raja Laut
"Kau adalah kau, dan aku adalah aku. Kau tidak memanggilku untuk meminta bantuan jika kau terlibat masalah dengan ini. Kau tidak menangis kepadaku saat kakimu patah. Kau tidak meneriakkan namaku saat kau menjadi yang terkuat. Aku tidak menanggung dosamu, atau mengambil pahalamu"-Muhammad Mahdy, A Cat In the Alley

Waktu Pesta Sang Imaji
Nawangwulan tak bisa pulang sebelum menemukan seledangnya yang dicuri Jaka Tarub dalam Kisah Lain Nawangwulan. Hasil pancingan Piscate tak lagi sebagus yang biasa ia pancing untuk Tohen dalam Ketika Tohen dan Piscate Pergi Memancing. Kondisi laut yang dicemari berbagai sampah membuat para duyung berdemo kepada ratunya dalam Dongeng Duyung Pantai Selatan.

Sangat berani. Mungkin dua kata itulah yang mampu menggambarkan perasaan saya membaca tiga cerpen ini. Kisah Nawangwulan dan dongeng Pantai Selatan tentu sudah sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Namun Tya Winduwati "meramu" kembali cerita rakyat ini menjadi kisah yang baru dan fresh. Setali tiga uang, Intan Kirana menceritakan kisah tentang Zat Tertinggi yang hingga kini banyak misteri yang menyelubunginya. Overall, tiga cerpen ini bisa saya katakan berfilosofi dan penuh pesan moral.

"Kalau saja hari ini bukan giliranku mendapat mustika, pasti aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan awan senja dari balkon kamarku di istana langit. Bumi terlalu jorok untuk ditinggali dan aku kesal bukan main kalau ada manusia yang membuang sampah."-Tya Winduwati, Kisah Lain Nawangwulan
"Suasana semakin ramai seiring waktu berganti, namun berbagai pertanyaan tetap menggelayut seerat dahulu; sejak awal mula ketika segalanya kosong dan penuntunku hanya sebuah suara yang tak dapat kutelusuri asal usulnya. Sejauh yang kutahu, aku lahir dari sebuah ketiadaan. Atau mungkin, bersama sebuah ketiadaan."-Intan Kirana, Ketika Tohen dan Piscate Pergi Memancing
"Betapa kisah kasih antara mereka yang dikisahkan tiap masa itu tak lagi bisa menenangkan, tapi sungguh bagai perasan jeruk di atas luka atau penjara emas yang mahal."-Tya Winduwati, Dongeng Duyung Pantai Selatan

Waktu Pesta "Ku"
Seolah karma, seorang perusak pesta malah menikmati waktu pestanya sendiri dalam Waktu Pesta. Kenanga merindukan sosok ayah dan ibunya yang telah dua tahun tiada dalam Wind Chime. Selma menemukan "Toko Wajah" tepat disaat ia membutuhkannya dalam Piknik Hujan.

Klimaks. Setidaknya inilah gambaran yang saya dapat dari tiga cerpen karya Dodi Prananda ini. Kesunyian dan rasa sedih menyelimuti kisah-kisah ini. Classic, but not cliche. Setidaknya ini pendapat saya.

"Saya pikir, setiap orang memiliki waktu pesta masing-masing. Hanya saja, ada yang tak nikmat dan berhasil dengan sempurna menikmati waktu pesta yang telah dijatahkan baginya."-Dodi Prananda, Waktu Pesta
"Sebenarnya ia masih sangsi; benarkah warna putih sebagai perlambang kesucian? Tapi, kini ia selalu melihat warna putih sebagai simbol atas kesendirian yang membuatnya jauh tenggelam ke dasar kerinduan itu."-Dodi Prananda, Wind Chime
"Ibu, ajarkan aku cara menyeduh hujan, seperti cara Ibu menyeduh kesedihan. Ajak aku memasuki imajinasimu, dan kita akan piknik di bawah hujan, untuk meluruhkan segala yang membuat resah hati dan merontokkan dahan kesenduan." Dodi Prananda, Piknik Hujan 

Physically, saya menyukai sampulnya yang catchy dan judul di masing-masing cerpen yang memiliki font yang berbeda-beda. Meski demikian saya sangat terpesona dengan kisah-kisah yang mereka tawarkan. Unik, menarik dan segar. Recommended book to buy and read! 

UPDATE:
Beberapa waktu yang lalu, salah satu penulis buku ini, Dodi Prananda, menghubungi saya. Katanya, saya salah menginterpretasikan cerpen K karya Intan Kirana. Setelah saya baca ulang, ternyata saya terbalik! Si lelaki lah yang terjerat pesona si wanita dan si lelaki itu berdarah Jepang. Brilliant! Butuh waktu berulang-ulang untuk menyadari jebakan ini. It makes this book comes more uniqe!

Jumat, 26 April 2013

Not A Student Anymore, But Not A Colleger Yet

DISCLAIMER: Saya meminta maaf atas kealpaan saya mengurus blog ini sekalipun Ujian Nasional telah berakhir minggu lalu. Ternyata setelah Ujian Nasional masih ada kesibukan lain yang harus saya jalani, perpisahan.


"Statusnya Awin yang paling galau. Pelajar bukan, mahasiswa belum"         -Kak FhiaFT, mau wisuda

Inilah status tergalau yang pernah saya alami selama tiga tahun terakhir. Bukan jomblo, apalagi jombo ngenes seperti ABG labil kebanyakan remaja saat ini. Tapi saya sangat-sangat galau dengan status pekerjaan saya hari ini. Pelajar bukan, mahasiswa belum (meskipun secara teknis saya masih berstatus pelajar, karena ijazah belum di tangan). Ini lebih galau dibandingkan kondisi saya saat pendaftaran SNMPTN atau kondisi saya saat melihat novel yang saya idam-idamkan saat tidak ada uang. Ini bukan galau biasa. Ini galau LUAR BIASA.

Buat teman-teman yang seangkatan dengan saya pasti akan merasakan bagaimana bosan dan galaunya setelah Ujian Nasional ini. Bayangkan, saya yang biasanya bangun jam lima pagi dan pontang-panting mempersiapkan perlengkapan sekolah, sekarang malah diperbolehkan berleha-leha di rumah sampai SBMPTN digelar bulan Juni depan. Kondisi seperti ini membuat saya beberapa hari ini seolah terkena sindrom. Belakangan saya sering bangun kesiangan, sekitar jam enam. And, buat saya yang terbiasa bangun at least setengah enam, it means saya terlambat ke sekolah dan harus mandi jenggo (FYI, buat yang gak tau "mandi jenggo", itu istilah saya untuk mandi kilat dengan prosedur: gosok gigi, cuci muka, pake cologne dan deodoran, lalu ganti baju). TAPI, berhubung saya sudah selesai UN dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan, saya jadi bingung mau ngapain. Jadilah, selama seminggu terakhir saya mendekam di rumah, hanya membaca buku atau menonton film. Kalaupun saya keluar, itu hanya untuk gladi resik perpisahan, perpisahan, dan mengambil modul persiapan SBMPTN. It was soooooo boring.

So, kalau ada yang nanya apa kegiatan saya selama "libur" (technically, saya gak libur. Tapi apa namanya kalau gak sekolah?), saya akan jawab "ngeden di rumah, jadi ulet keket". But it won't be forever, secara Senin depan saya udah mulai pembelajaran intensif untuk SBMPTN di salah satu lembaga bimbingan belajar. Tapi saya berjanji akan berusaha meng-update blog ini paling tidak sekali seminggu (semoga tidak lupa).


Anyhow and anyway, saya bikin dua blog lagi. Yang satu blog sastra, Jurnal KATAku, dan yang satunya lagi blog buku, Lisons le Livre. Buat yang pengen tau, silahkan mampir di sini dan di sini

Rabu, 03 April 2013

Minggu, 24 Februari 2013

[BOOK REVIEW] Eclair: Pagi Terakhir di Rusia - Prisca Primasari

Judul: Eclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Tanggal Terbit: Maret 2011
Harga: Rp36.000,-
ISBN: 979-780-472-0

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon-berbagi eclair, ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya. 

Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan. 

Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. "Aku masih di sini," bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar-benar tiada? 


***
Membuka novel ini pertama kali, saya disajikan dengan 5 baris kalimat yang mampu merangsang rasa penasaran saya.


"Krasiwaya Devushka. Begitulah aku menyebutnya. Dia, yang bermata azure. Yang selalu berpaling dari kue eclair. Yang dikekang pilar-pilar mansion megahnya. Yang selalu menanti torehan belati di jantungnya." -Prisca Primasari, Eclair: Pagi Terakhir di Rusia

Siapa Krasiwaya Devushka? Mengapa ia diburu? Mengapa ia tidak menyukai eclair? Beragam pertanyaan mulai memenuhi benak saya. Prisca Primasari tahu benar bagaimana memancing minat pembaca.

***
Eclair berkisah tentang persahabatan empat orang pemuda dan seorang gadis. Ekaterina 'Katya' Fyodorovna yang berdarah bangsawan Rusia, kakak-beradik Sergei dan Stepanych Snegov, serta kakak-beradik blasteran Perancis-Rusia Kay dan Lhiver Olivier. Persahabatan ini kemudian pecah berantakan, menyebabkan berbagai perubahan sifat dari masing-masing tokoh. Katya enggan memakan eclair, Kay memilih untuk hidup nomaden sebagai fotografer, Stepanych jatuh sakit, dan Lhiver menghilang dalam keramaian kota Surabaya.

Kisah dimulai ketika Katya dan Sergei yang tengah mempersiapkan pernikahan mereka yang tinggal dua minggu didera kenyataan pahit bahwa kondisi kesehatan Stepanych semakin memburuk. Terlebih, Stepanych kerap kali mengigau, menyebut nama dua sahabatnya, Kay dan Lhiver. Kondisi Stepanych yang semakin buruk membuat Katya mengambil keputusan berani, menyusul Kay yang menetap di New York dan Lhiver yang tinggal di Surabaya serta meminta mereka untuk menjenguk Stepanych.

Menengok kembali masa lalu yang enggan untuk mereka ingat, dan mengobati luka yang terbuka sekian lama. 

***
Novel ini bukanlah roman biasa (setidaknya bagi saya). Prisca membubuhi kisah tentang Tsar terakhir Rusia, Tsar Nicholas II (dalam ejaan Rusia disebut Tsar Nikolai II) dan keluarganya. Meski tentu dibumbuhi kisah fiksi untuk menyelaraskannya dengan kisah dalam novel ini. Beberapa adegan thriller khas kisah misteri detektif juga dihadirkan meski sebagai selingan. Agaknya Prisca ingin menegaskan bahwa novel yang ditulisnya bukanlah sekedar kisah romansa biasa, dan Prisca berhasil. Saya tertarik dan tak sabaran membuka lembar-lembar berikutnya. Bertanya-tanya apakah akhir cerita ini sesuai dengan dugaan saya. Namun, yang membuat saya sangat terkesan adalah cara Prisca menyajikan latar yang demikian apik. Rusia, Perancis, Amerika Serikat, dan Indonesia. St. Petersburgh, Paris, New York, dan Surabaya. Entah Prisca memang telah mengunjungi negara-negara tersebut atau belum, namun saya dapat mengatakan bahwa Prisca demikian mahir meramu latar-latar yang berbeda menjadi sebuah isah yang apik.


Secara keseluruhan saya menilai novel Eclair sebagai novel roman yang tak sekedar menampilkan romansa. Novel ini menyajikan arti keluarga, persahabatan, dan cinta. Terkesan klise? Mungkin sedikit quote berikut ini akan memberi pandangan baru.

"Mereka adalah kerlip cerah yang sungguh berarti baginya, bersinar, seperti arti dari eclair sendiri, yang berarti cahaya."-Halaman 127
"Hati yang merasakan dengan tulus jauh lebih baik daripada kata-kata manis yang palsu dan tidak berarti."-Halaman 146
"Dan bila ada hal yang membahagiakan sekaligus menyedihkan untuk dipikirkan, itu adalah masa lalu yang indah."-Halaman 224

Minggu, 03 Februari 2013

Ketika Motivasi Benar-Benar "Menampar" Saya


Awalnya saya berjanji pada Bang Yono, pemimpin redaksi www.inioke.com untuk menulis liputan tentang Gadjah Mada Expo (GAMA Expo), salah satu rangkaian acara Gadjah Mada Educational Road Show 2013 (GMERS 2013) yang diadakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Minang Universitas Gadjah Mada hari ini (03/02) di HW Hotel. Namun saya pikir, akan sangat rugi bila saya hanya menulis sebuah liputan biasa dengan rumus 5W+H. Saya tidak mau menyimpan motivasi yang saya dapat dari acara ini untuk diri saya sendiri. Saya ingin membaginya dengan pembaca sekalian.
Honestly, saya sudah sering ikut acara yang sejenis dengan Gadjah Mada Expo. Tapi yang biasa saya lakukan adalah 3D; datang, duduk, diam. Tak sedikitpun motivasi dari narasumber yang dihadirkan “menyentil” saya. Tapi, ketika saya menghadiri Gadjah Mada Expo ini, saya seolah “ditampar” bolak-balik oleh para narasumber yang dihadirkan. Untuk pertama kalinya, saya menyimak baik-baik apa yang disampaikan narasumber.
Tamparan pertama saya dapat dari Mas Iwan Setyawan. Mas Iwan ini, saya kenal pertama kali melalui novel yang dihadiahkan teman saya, 9 Summers 10 Autumns. Novel yang kemudian saya baca berulang kali ketika saya merasa semangat saya mulai kendor. Ketika senior saya yang menjadi panitia GMERS 2013 memberi tahu bahwa Mas Iwan akan menjadi pembicara saat GAMA Expo nanti, saya langsung mendaftar tanpa pikir panjang. Saya harus bisa berjumpa dengan Mas Iwan, pikir saya. Whatever the way is, saya harus bertemu Mas Iwan dan mengucapkan terima kasih atas novelnya yang menginspirasi saya.


Namun, ketika Mas Iwan mulai berbicara di GAMA Expo dan memotivasi peserta yang hadir, saya malah “ditampar” dengan kisah hidupnya (seperti yang saya rasakan saat pertama kali membaca novelnya). Ayah saya bukan supir angkot, melainkan seorang PNS di balai kota. Ibu saya tak sekedar ibu rumah tangga, tetapi juga seorang guru. Secara kehidupan tentu saya berkecukupan dengan berbagai fasilitas yang diberikan orangtua saya untuk menunjang kegiatan belajar saya. Orangtua saya tak harus menjual angkot seperti yang dilakukan orangtua Mas Iwan untuk membiayai sekolah saya dan adik saya. Namun saya, seperti kebanyakan manusia lainnya, lupa mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada saya.
“Saya baru mulai membaca novel ketika dewasa, menulis di umur 30 tahun,” kata Mas Iwan. Ucapan Mas Iwan ini, kembali menampar saya, mengingatkan saya pada ucapan seorang senior saya. “Kamu beruntung, Win. Kelas 4 SD kamu sudah mulai menulis puisi, kelas 1 SMA tulisan kamu sudah dimuat di koran lokal. Kamu juga dipertemukan Tuhan dengan orang-orang yang menyemangatimu dalam menulis. Abang saja baru mulai menulis kelas 2 SMA ini,” katanya. “Jangan pernah berhenti menulis, Win. Karena diluar sana ada banyak orang yang tak memiliki kesempatan seperti kamu.” Hari ini, saya menangisi diri saya yang sering kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.


Tamparan kedua saya dapat dari Uda Vandy Yoga Swada, mahasiswa UGM yang menjadi pembicara di GAMA Expo. Saya, menghadiri GAMA Expo dengan berbagai ketakutan yang menyelimuti diri saya. Saya takut tak lulus UN, karena hasil TO dan pra-UN yang saya ikuti (meski dilabeli keterangan “lulus”) tak menentramkan batin saya. Saya takut tidak kuliah, melihat ketatnya persaingan di SNMPTN dan SBMPTN. “Hidup adalah perjuangan,” kata Uda Vandy. Motivasi-motivasi dari Uda Vandy seolah meneriaki saya untuk tidak jadi pengecut. Lagi-lagi, saya menangisi diri saya yang pengecut dan tidak berani memerangi ketakutan saya. Saya tidak mau kalah sebelum pertarungan dimulai.


Tamparan ketiga saya dapat dari Ma’am Efi, guru Bahasa Inggris SMAN 2 Padang yang juga menjadi pembicara di GAMA Expo. Kali ini, motivasi-motivasi Ma’am Efi tak sekedar meneriaki atau menggampar saya, namun juga memukul saya dengan telak. “Kalau you mau jadi mahasiswa, bersikaplah sebagai mahasiswa, change your behavior!” ujarnya memotivasi para peserta. Dan saya, selama ini masih bersikap seperti seorang siswa. For God’s sake! Ujian Nasional tinggal 71 hari lagi dan saya baru membahas kurang dari 50% materi yang akan diujiankan. Sekali lagi, saya menangisi diri saya yang masih memelihara sifat malas saya.


Terakhir, saya ditampar oleh penampilan teater dari mahasiswa UGM. Drama singkat ini, menceritakan seorang mahasiswa baru UGM yang melihat realita hidup. Seorang anak yang ditahan dipenjara karena mencuri sepotong roti, padahal ia kelaparan. Seorang wakil rakyat yang malah menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Seorang siswa yang putus sekolah karena tak ada biaya. Sebuah keluarga petani yang terpaksa menahan lapar akibat hasil panen mereka dijarah orang-orang berkuasa dengan alasan “untuk kepentingan bersama”.
Apa yang saya dan para peserta saksikan pada drama itu, adalah kejadian yang kerap saya saksikan. Di jalanan saya melihat anak kecil yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya. Di media saya melihat koruptor yang memakan uang rakyat. Melalui film dokumenter saya melihat pelajar yang harus menaiki kapal, menembus ganasnya laut untuk bersekolah. Negara kita, my dear readers, masih tertatih meniti tangga pembangunan. Negara kita masih memperbaiki diri. Sepuluh tahun, dua puluh tahun yang akan datang, kitalah yang akan menjalankan roda pembangunan bangsa. Saya tidak mau hanya jadi penonton. I wanna make something, saya mau ikut andil memajukan bangsa ini, by my own way.


My dear readers, motivasi yang benar-benar saya camkan pada diri saya adalah, whatever your dream is, mulailah dari langkah-langkah kecil. Segila apapun mimpi Anda, para pembaca yang budiman, Anda harus tahu langkah apa yang harus Anda lakukan, dan mulailah dari step yang kecil.
Lastly, my dear readers, saya berjanji pada diri saya, hari ini saya adalah Alifia Seftin Oktriwina, seorang siswi SMA dan jurnalis pelajar. Tapi enam tahun dari sekarang, saya sudah menyelesaikan studi saya di bidang psikologi hingga S2, menjadi seorang psikolog dan konselor bagi remaja, serta menelurkan karya yang mampu menginspirasi banyak orang. My dear readers, make your dreams come true.